Sudah hampir satu bulan setelah kejadian itu Marsha sudah tidak pernah lagi di datangi oleh Ashel dkk. Kehidupan kuliah Marsha pun jadi damai dan tenang. Entah apa yang Zee lakukan sehingga kini batang hidung Ashel dkk pun tak pernah terlihat olehnya. Meski bersyukur, tapi Marsha masih sedikit was was karena bisa jadi di kemudian hari Ashel akan tiba tiba muncul.
Hari minggu ini kegiatan Marsha masih seputar ibadah gereja. Dan tentunya bersama Christian. Selain kini berteman di gereja, Christian dan Marsha pun telah menjadi teman di kampus bahkan Zee pun telah sedikit akrab dengan Marsha karena waktu bertemunya kini lebih sering ketimbang sebelumnya.
"Sha...pulang dari sini mau kemana?."
Christian bertanya ketika mereka tengah bersiap akan keluar dari gereja.
"Pulang paling ini...soalnya kan.."
"Ahh, pasti di jemput Zee ya?."
Tebak Christian.
"Yaaa...begitu. Kamu bisa kasih tahu manusia batu itu ngga sih? Buat berhenti antar jemput aku ke gereja dan kuliah? Aku cape kasih tahu dia yang ujungnya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Huh!."
Kekesalan Marsha sudah di ambang batas. Setelah Ashel tidak pernah terlihat lagi, kini Zee lah yang selalu ada bak hantu yang muncul dimanapun Marsha berada. Kemungkinan juga Ashel dkk sudah tidak pernah terlihat lagi itu karena ada Zee dimanapun Marsha berada. Dia selalu ada untuk Marsha sehingga tak ada cela sedikitpun bagi Ashel untuk datang merusuh di hidup Marsha.
"Kalau soal itu aku ngga bisa bantu, Sha. Itu keinginan Zee sendiri dan aku ngga bisa cegah dia. Tapi ya, bukannya bagus ya? Kan Ashel dkk jadi ngga ganggu kamu lagi."
"Oohhh..apa jangan jangan karena ini Ashel ngga ganggu aku lagi?."
Ucap Marsha setelah menyadari kenapa belakangan ini tak melihat Ashel lagi.
"Gara gara Zee?."
"Iya. Zee bahkan ngga biarin aku sendirian dimanapun seperti di kampus atau di gereja kan?."
"Emmm...bisa jadi sih. Dia ngga ngomong soal ini ke aku soalnya jadi aku ngga tau apa yang dia rencanain atau lakuin supaya Ashel ngga ganggu kamu."
Jawab Christian jujur. Sedekat dekatnya mereka, pasti ada satu atau beberapa hal yang ngga mungkin di bagi ke satu sama lain.
"Apapun itu aku lebih baik jaga diri dari Ashel daripada harus ketemu Zee tiap hari."
"Gapapa Sha, lagian kan Zee baik kok dan masa selama sebulan ketemu dia kamu ngga ada rasa sama dia? Dia ngga cakep ya? Masih cakepan aku? Iya kan iya kan?."
"Iyaaa..masih lebih cakepan kamu ketimbang dia. Dah yuk keluar."
"Ihhh Marsha...aku jadi baper ayo tanggung jawab! Ayo jadi pacar akuuu."
Marsha hanya memutar bola matanya malas.
Kini Christian dan Marsha sudah berdiri di depan gedung gereja. Keduanya pun sudah melihat Zee tengah menunggu di luar mobil. Kini karena mengantar jemput Marsha, Zee lebih sering membawa mobilnya ketimbang motornya.
"Hay Sha.." sapa Zee ramah.
"Marsha aja nieh yang di sapa? Gue ngga?."
"Apa sih toy..ganggu."
"Iya deh yang udah punya tambatan hati. Dah ah gue ngga mau ganggu. Zee antar Marsha ke rumah beneran loh ya jangan mampir kemana mana."
Ujar Christian mewanti wanti Zee.
"Lo pikir gue selama ini anterin dia sambil anter paket sampe harus mampir sana sini. Dah sana balik di cariin om Cio."
Christian sempat sempatnya menepuk bahu Zee sebelum berlari menjauh.
"Ck! Kek anak kecil aja."
Ujar Zee melihat kelakuan sahabatnya.
Setelah melihat Christian pergi, Zee kembali menatap Marsha.
