Menjadi Istri ke 2

1.6K 184 46
                                        

Malam semakin larut namun Marsha masih sibuk berkemas. Hari yang dia tunggu sekali akan datang sehingga malam ini dia tidak bisa tidur dan memilih membuka tasnya kembali dan mengecek semua yang akan dia bawa untuk perjalanannya besok.

Perlahan namun pasti langkah wanita paruh baya datang menghampiri Marsha di kamarnya. Beliau tersenyum saat melihat wajah antusias Marsha ketika berkemas.

"Marsha, udah jam 10 malam loh. Kamu ngga tidur?."
Ujarnya dari pintu.

Marsha menoleh seketika kikuk sendiri. Merasa malu karena terlalu tidak sabar untuk hari esok.

"Maaf deh, Ma. Marsha udah ngga sabar besok jadi malam ini ngga bisa tidur."
Jawab Marsha sekenanya.

"Semua kan udah kamu cek tadi sore. Katanya udah lengkap. Keperluan Michi juga udah. Apa lagi yang belum, hem?."

"Ah...ga ada sih. Tapi.."

"Udah, rapiin lagi itu semua. Kamu cepet tidur. Besok ketinggalan kereta loh."

"Oke deh, Ma."

"Selamat tidur Marsha."

"Selamat tidur juga, Ma."

Wanita paruh baya bernama Shani itu menutup pintu kamar menantunya dengan perlahan. Setelahnya beliau kembali ke kamar untuk tidur.

Setelah mama mertuanya pergi, Marsha lekas memasukan kembali bajunya ke dalam tas karena memang semua sudah siap. Dia lekas menarik selimut untuk anaknya yang tidur terlelap di samping.

"Besok, kita ketemu papa. Kamu udah kangen kan? Mama juga. Papa udah tiga bulan susah di hubungi. Udah setahun juga ngga pulang. Jadi, dengan terpaksa kita susulin papa. Semoga papa masih ingat sama kita ya?."

Marsha mengusap bahu anak perempuannya yang akan genap berusia 5 tahun akhir tahun ini. Anak perempuan yang kehadiran nya bagaikan bulan sabit yang indah. Zee menamainya Michelle Lenathea Asadel.

..

Setelah melewati malam yang panjang, Marsha akhirnya di pertemukan dengan pagi yang cerah. Secerah itu juga wajahnya saat di antar ke stasiun kereta api di kota Jogja.

"Sampai jakarta jangan lupa kabari mama sama papa ya, nduk?. Kita tunggu kabarnya."
Shani memeluk Marsha begitu erat. Menantu yang di nikahi anaknya beberapa tahun silam itu begitu dia sayangi hingga usianya yang telah beranjak dewasa pun Shani tetap memperlakukan Marsha seperti anak kecil lainnya. Begitu di manja Marsha ini.

"Iya, Ma. Mama tunggu kabarnya aja."

Setelah Shani, kini Gracio yang memeluk Marsha.

"Hati hati ya? Jangan lengah jagain barang juga anakmu."
Ujarnya lembut.

"Iya, papa."

Si kecil dalam gendongan Marsha menggeliat karena sesak akibat dirinya yang ikut di peluk oleh nenek dan kakeknya.

"Michi...jagain mama ya? Jangan susahin mama kamu. Disana kamu harus bantu mama. Jangan rewel ya? Bisa nduk?."
Shani membelai pipi cucunya yang begitu menggemaskan.

"Eyang uti tenang aja, Michi bakal jaga mama dan janji ngga rewel."
Ucap anak berusia 4 tahun lebih 9 bulan itu. Anak yang sudah terlihat pintar sejak usia 2 tahun karena sudah lancar berbicara bahkan bisa bercerita dengan sangat rinci dan jelas.

"Eyang kung juga jangan khawatir, Michi ikut biar bisa bantu mama cari papa. Jadi kalian tenang aja ya? Kan ada Michi."

Gracio dan Shani tampak senang mendengar ucapan cucu mereka yang sedikit melegakan. Keduanya selalu percaya pada cucunya bisa menjaga Marsha saat di jakarta nanti. Karena meski masih kecil, gadis itu sudah terlihat kuat di luar dan sangat berani.

One shoot (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang