Jealous

1.9K 248 28
                                        

Hari demi hari Marsha lalui di rumah besar itu. Rumah yang seharusnya nyaman namun menjadi mencekam karena Zee jarang sekali terlihat di rumah besarnya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di tempat kerja dan pulang jika sudah tengah malam.

Keduanya hanya saling bertemu di waktu pagi itupun jika Zee memilih sarapan di rumah ketimbang membeli di luar. Awalnya Marsha sedih tidak dianggap kehadiran nya, tapi dia kini sudah terbiasa.

Marsha sebenarnya tidak pernah masalah soal itu. Hanya saja dirinya merasa seperti orang gila yang hidup di rumah mewah. Dan hanya dirinya dan beberapa pekerja rumah yang silih berganti mengunjungi rumah itu.

Sore itu senja tengah merekah. Marsha yang bosan berada di rumah pun memutuskan untuk berjalan sore di sekitar komplek dan berakhir di taman rumahnya.

"Marsha?."

Marsha yang tengah duduk di taman menikmati pemandangan hamparan bunga pun menoleh.

"Eh hay Chris..."

"Lagi apa?."
Tanya Christ sambil ikut duduk di sebelah Marsha.

Kedua orang itu dulunya teman satu sekolah dan kebetulan Marsha menikah dengan kakak pertama dari pria bernama Christ Harlan. Tapi karena Chris melanjutkan pendidikannya di luar negeri, mereka hanya bertemu sekali disaat Zee menikah dengan Marsha. Dan di musim liburan tahun ini dia memilih pulang ke rumahnya. Kini mereka jadi sering bertemu meski Christ jarang di rumah juga.

"Emm..duduk aja sih. Tamannya lagi bagus banget sore ini."
Jawab Marsha.

"Betul itu. Mamah suka banget nanam bunga jadi bisa kita nikmati kalau berbunga gini."
Kata Christ melihat taman sore itu di penuhi bunga bunga bermekaran.

"Iya. Kalau mamah mau tanam lagi aku mau ikut deh."
Ungkap Marsha.

"Boleh. Sabar aja nunggu Mamah pulang dari Bali."
Ujar Christ.

"Iya nieh. Udah beberapa hari pergi dan aku mulai kangen."

Marsha menunduk. Selain pekerja rumah yang sering datang, Shani pun beberapa kali terlihat datang menghibur nya, tapi hampir empat hari ini beliau tidak berkunjung karena ada pekerjaan di luar daerah.

Dari jauh Zee datang menghampiri. Niat dia pulang lebih awal agar Marsha tak perlu menunggunya seperti malam malam sebelumnya. Dirinya sengaja pulang cepat agar tidak membuat Marsha khawatir, tapi sepertinya Marsha baik baik saja. Buktinya Marsha kini bisa tertawa dengan adiknya.

"Seharusnya gue ngga khawatir sama dia."
Zee pun masuk ke dalam rumahnya.


Sore yang cerah itupun berlalu. Malam dingin mulai datang. Marsha masuk ke dalam rumah setelah berpisah dengan Christ di depan.

"Udah puas mainnya? Kelihatanya happy banget tadi. Sampai sampai suaminya pulang ngga sadar."
Ujar Zee menyindir kepulangan Marsha yang hampir memakan waktu tiga jam meski hanya duduk di taman bersama Chris.

"Ka Zee udah pulang dari kapan?."

"Dari kalian mulai ngobrol di taman."
Zee pun masih asik membaca sebuah buku di ruang tamu dengan keadaan sudah mandi.

"Maaf ka, aku pikir kaka belum pulang."

"Pantes aja betah ya di rumah mulu...orang ada temennya.."

"Ngga gitu ka Zee."

Zee pun terdiam membuat Marsha sedikit was was.

"Ka Zee mau makan malam apa? Biar aku siapin."
Tanya Marsha mencairkan suasana.

"Ngga usah. Gue ngga laper. Lagian siapa juga yang belum makan di jam 7 ini."

"Oh kaka udah makan ya? Ya udah kalau gitu. Ka aku ke kamar dulu ya?."

One shoot (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang