The Moon

2.3K 242 37
                                        

Hari hari berlalu begitu cepat. Bagi Marsha, hari harinya semakin terasa hampa. Callie dan Raisha sudah tidak lagi di titipkan ketika weekend karena kedua anak itu sudah mulai bersekolah di Playground. Saat weekday dua anak itu sibuk sekolah, dan ketika weekend tiba pasti mereka menghabiskan waktu bersama dengan Ashel dan Adel selaku orang tua kandungnya.

Zee menyadari bahwa Marsha begitu kesepian. Dia jadi sering meminta izin cuti untuk menemani Marsha di rumah atau ikut berjaga di cafe bila Marsha memiliki mood pergi ke cafe. Meski Zee seorang dokter yang sibuk ambil cuti, dia tetap memenuhi panggilan rumah sakit bila dia di butuhkan.

Kebetulan sabtu ini, Zee yang seharusnya shift pagi rela tidak masuk demi Marsha yang tengah pms. Tak peduli dia mendapat gaji sedikit, toh yang punya rumah sakit juga ayahnya. Bebaslah dia mau gimana. Jangan protes!.

Zee menghela nafas. Istrinya jika sudah badmood pasti cuma diem seharian full. Itu yang membuat Zee terkadang gemas pada istrinya.

"Sha, kamu mau aku temenin ke yayasan buat ketemu Gracie?."
Tanya Zee pada Marsha. Keduanya hanya selonjoran di ranjang sejak mereka selesai sarapan.

"Pasti ngga di bolehin bu Gaby. Lagian dia bentar lagi ke Jepang karena budenya mau rawat dia."

Inilah yang Zee takutkan. Marsha rapuh karena sebuah pertanyaan menyangkut anak itu. Gracie membawa dampak sendiri pada Marsha. Wanita itu rupanya begitu mencintai Gracie.

"Setidaknya kita ketemu dia sebelum dia pergi. Mau ngga?."

"Zee."

"Sha. Mau ya? Jangan murung terus. Atau kita ke rumah Callie sama Raya aja? Mau?. Aku coba telfon Ashel deh."

Zee mengotak atik ponselnya mencoba menelfon Ashel.

Tak lama Ashel mengangkat telfon dari Zee.

"Hallo, Shel? Kalian di rumah ngga?."

"Ngga Zee, kita di bogor. Raya minta main ke villa jadi kita pergi kemarin malam. Kenapa? Marsha cariin ya?."
Tebak Ashel. Dia tahu sudah lama Marsha tidak bertemu kedua anaknya. Dia juga paham Marsha pasti merindukan dua anaknya.

"Iya. Kangen dua bocil katanya."

"Maaf deh. Harusnya kita juga ajak kalian. Kita kira kalian ada rencana lain jadi kita ngga ngajak. Si Raya juga nanya sih, tapi ngga tahu di jawab apa sama si Adel."

"Gapapa sih. Kita juga kemarin jaga cafe."

"Nanti sewaktu kita ada waktu, kita yang kesitu deh main."

"Oke."

"Ngga ada lagi kan?."

"Ngga."

"Ya udah ya? Kita mau jalan lagi."

"Iya."

Zee mematikan sambungan telfon nya.

"Mereka ngga di rumah ternyata."

Marsha semakin murung. Rindunya entah harus dia tahan sampai kapan.

Diam diam Zee menghubungi pihak yayasan untuk meminta izin bertemu dengan Gracie. Zee tidak tahu harus dengan cara apa lagi menghibur Marsha. Semua sudah di coba, tapi nyatanya hiburan Marsha hanya bisa bertemu dengan anak kecil.

"Sha, makan yuk? Kemana kek."
Ujar Zee memasukan ponselnya.

"Hah, kemana? Males ah."

"Bentar aja. Aku pengen mie ayam. Temenin dong."
Mohon Zee.

"Ck! Iya iya. Aku ganti baju dulu."

Setelah bersiap, keduanya pergi meninggalkan rumah.

Marsha tidak sadar bahwa Zee membawanya pergi ke yayasan. Zee sudah mendapat izin untuk berkunjung. Dia melakukan banyak rayuan agar diizinkan datang.

One shoot (ZeeSha)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang