Meski siang itu terik sekali namun Marsha betah berlama lama duduk di tribun penonton lapangan basket sekolahnya. Dia tidak tengah menonton sebuah pertandingan basket, melainkan menumpahkan semua deritanya disana. Di tempat yang tidak akan ada satupun orang yang datang karena cuaca tengah panas panasnya dan semua siswa lebih memilih berlindung di dalam kelas di jam istirahat terakhir ini.
Hanya ada Marsha dan semua suara milik teman temannya yang terus bergema di telinganya. Mengatakan bahwa Marsha anak haram, anak dari seorang perusak rumah tangga orang, anak wanita penganggu suami orang dan lainnya. Semua bully dia dapatkan ketika sang ibu datang kembali tadi membawakan pesanan gurunya. Semua temannya melihat, dan mulai mencacimakinya.
Jika saja hanya dia yang mendengar itu, dia pasti akan merasa lebih baik, tapi tadi mamanya pun turut mendengarnya. Mendengar langsung dirinya di kucilkan temannya, saat itu dunianya hancur.
"Mama gapapa. Kamu jangan khawatir."
Meski Indah terus mengucapkan itu, Marsha tahu pasti mamanya sedih mendengar nya.
"Maafin Marsha ma, maafin."
Air mata itu semakin deras meluncur dari kedua matanya yang mulai sayu. Dirinya benar benar sedih saat ini.
Saat dirinya menangis, tak di sadari bahwa ada sosok lain yang datang. Sosok yang berdiri di sebelah Marsha sekaligus menghalangi Marsha dari sinar matahari.
"Sepertinya disini hujan."
Sosok itu duduk lalu mengeluarkan sebuah payung lipat dari belakang punggung nya. Tanpa kata sosok itu membuka payung nya dan mengangkatnya. Kini keduanya duduk di bawah teduhnya payung itu.
Lama sekali sampai akhirnya Marsha mendongak. Melihat ada sebuah payung yang menghalangi sinar matahari menyengat tubuhnya.
Setelah sadar bahwa sosok di sebelahnya melakukan hal konyol itu, Marsha pun tertawa kecil.
"Kenapa?."
Tanya sosok itu bingung.
"Ngga hujan, Ka. Ngga perlu payung."
Jawab Marsha diselingi senyumnya yang manis.
"Tadi hujan, kok sekarang cerah." Manusia itupun melipat payungnya.
"Aku pakai payung untuk menghalangi matahari yang akan menyakitimu."
Lanjutnya.
"Matahari bukan..."
"Bukan batu ?."
Potong Zee. Marsha pun mengangguk. Dia lupa pernah mengatakan alasan itu pada Zee beberapa hari yang lalu.
Manusia aneh yang datang memang Zee. Bocah gabut yang tadi berlari ke kelas demi meminjam payung pada temannya setelah melihat Marsha duduk di tribun sendirian. Dia hanya ingin membalas kebaikan Marsha waktu itu. Selain itu dia juga ingin menagih janji Marsha. Ini kesempatan emas dan Zee jelas tidak mau mensia- siakannya.
"Aku Zee. Kamu?."
Zee mengulurkan tangannya.
"Hem?."
"Nama kamu?."
Marsha diam.
"Kamu janji loh mau kasih tahu nama kamu sama aku setelah kita ketemu lagi. Kamu lupa?."
Seketika Marsha tersenyum. Dia lupa pernah berjanji untuk memberi tahu namanya pada sosok Zee di depannya ini. Karena setelah kejadian main hujan waktu itu, Marsha tidak pernah lagi muncul di hadapan Zee. Dan Zee pun tidak lagi mencari Marsha karena sibuk mencari sosok yang di maksud Indah waktu itu.
"Jangan ingkar lagi. Aku ngga tahu kapan kita akan ketemu lagi. Aku udah nunggu kamu lama, seminggu mungkin ada."
Jujur Zee yang menarik tangannya lagi.
"Iya kah? Selama itu?."
"Iya. Asal kamu tahu, temenku sampai bilang kalau kamu itu sebenarnya bukan manusia karena susah buat ketemu sama kamu."
