Di luar hujan turun dengan derasnya. Langit yang gelap, jalanan kota yang sepi menambah kesan seram pada jalan itu. Namun ada seorang wanita muda berjalan di bawah guyuran hujan hanya seorang diri tanpa takut akan ada yang menculiknya.
Bajunya basah, begitu pun kedua pipinya. Derasnya hujan tak bisa menutupi air matanya yang jatuh tak kalah derasnya dengan sang hujan. Hatinya sakit, seperti langit yang kini turun hujan, hatinya hancur seperti kepingan kaca yang terjatuh.
Dia perempuan cantik yang memilih kabur dari rumahnya karena sebuah pertengkaran dengan sang suami yang membuatnya muak berada di rumah itu terlalu lama.
Tujuannya kini hanya ingin pergi ke rumahnya sendiri yang cukup jauh dari rumah yang dia tempati dengan sang suami.
"Kamu kuat, kamu kuat. Kamu harus kuat."
Ujar wanita itu pada dirinya sendiri.
"Kamu harus bisa tanpa dia. Kamu bisa hidup mandiri."
Tanpa dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia kuat, dia sudah kuat sejak menikah dengan suaminya ini.
Wanita tahan banting yang bersedia menikah dengan seorang laki laki temperamen hanyalah dirinya. Dia bisa di bilang wanita terbaik dari yang terbaik untuk tipe suami yang tidaklah sama dengan kebanyakan.
Bukan karena cinta yang membuat dia mau menikah dengan lelaki itu, namun hanya soal perkara hutang piutang. Ya, ayah si wanita berhutang banyak pada ayah si lelaki. Dengan imbalan pernikahan, hutang itu akan di anggap lunas.
Jelas ayah sang wanita setuju. Meski anaknya menantang, tapi pernikahan itu sudah terjadi dan sudah memasuki tahun pertamanya.
Hebat ya? Pernikahan tanpa rasa cinta bahkan kasih sayang itu sudah bertahan sejauh ini. Mereka juga belum di karunia momongan karena dasar mereka menikah bukan untuk memiliki buah hati. Kedua sepasang suami dan istri itu terkadang terlihat akur. Tapi, lebih sering cekcok dan mengakibatkan si wanita kabur dari rumah. Meski begitu mereka tetap terlihat baik baik saja dari luar. Ya, hanya dari luar saja. Di dalam, banyak sekali retakan.
"Marsha!! Ya ampun!!. Mom!! Marsha pulang!!."
Bugh
"Marsha!!."
Pada akhirnya rumahnya sendiri adalah tempat teraman bagi wanita itu. Wanita bernama Marsha Lenathea.
"Bagaimana dok? Anak saya baik baik saja?."
"Dia hanya kelelahan, demam dan dehidrasi. Nanti saya tulis resep dan silahkan di tebus di apotik ya?."
"Baik dok."
"Kalau begitu saya pamit, mari."
"Terima kasih dokter."
"Sama sama."
Setelah mengantar dokter pergi, wanita paru baya itu kembali ke kamar anaknya.
"Shel. Kamu tebus obat dulu ya? Biar Marsha mommy yang urus."
"Iya, mom."
Gadis bernama Ashel pergi membawa kertas resep. Sedangkan wanita paruh baya duduk di tepi ranjang.
Melihat wajah pucat anak keduanya ini, hatinya begitu perih. Tak hanya sekali dua kali anaknya pulang dalam keadaan hancur. Terkadang ada lebam di pipi mochi anaknya, pernah juga semburat merah, atau kadang ujung bibirnya berdarah. Hampir setiap kali anaknya pulang pasti dia membawa oleh oleh yang berhasil membuat hati seorang ibu menjerit melihatnya.
"Maaf. Maafin mommy, Marsha."
"Mom."
"Sayang. Kamu udah bangun? Kamu pusing?."
