Afeksinya

165 24 21
                                        


713 Kata

°•°•°

Mirip vertigo, sensasi berputar-putar yang membuat Jimin kewalahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mirip vertigo, sensasi berputar-putar yang membuat Jimin kewalahan. Ia hanya mampu berbaring diatas tempat tidurnya, memegangi kepalanya yang terasa seperti mau lepas.

Setidaknya itu terjadi selama lima belas menit yang lalu. Untungnya keadaan mengerikan itu mereda setelah Jimin dengan terpaksa menuruti apa yang Ibu Tirinya katakan sebagai upaya meredakan sakit kepala yang Jimin rasakan.

Meski hasilnya nyata, Jimin tetap tidak mau mengakui kalau Ibu tirinya sudah cukup membantu. Ia merasa hal itu tidak pantas dilakukan. Apalagi pada orang yang sudah mencoreng kehidupannya.

"Ibu tinggal dulu ya. Mau buat Teh Jahe." Ibu tetap mengulas senyumnya sebelum pergi meski Jimin memalingkan pandangannya.

Satu lagi yang tersisa, tentu saja Taehyung. Jimin juga tidak mau memaku pandang kesana, ketempat dimana Taehyung duduk. Kali ini lebih dari sekedar memalingkan pandangan, Jimin memunggungi Taehyung.

"Masih sakit tidak kepalanya?" Taehyung tidak bercanda dengan rasa khawatirnya. Menemukan Jimin yang begitu kesakitan diatas tempat tidurnya tentu saja membuat Taehyung disergap cemas secara tiba-tiba, "Sini aku pijat pelipisnya kalau masih sakit."

Tidak ada respon apapun yang Jimin berikan. Masih tetap memunggungi Taehyung, tanpa sepatah katapun terucap, "Lain kali, kalau ada yang dirasa. Bilang padaku atau Ibu. Jangan ditahan sendirian."

Sensitif sekali Jimin dengar kata 'sendirian' ingin sekali menimpali perkataan Taehyung dengan makian. Tapi, tenaganya baru dikuras barusan. Marah-marah juga butuh energi. Jimin tidak punya cukup banyak sekarang.

Lalu Jimin dikejutkan dengan bau mint dari minyak atsiri, ditambah dengan sesuatu yang menyentuh tengkuknya. Bergerak konstan, memijat pelan disana, "Sampai keringatan begini, Jim. Kalau masih sakit, kita ke rumah sakit saja. Takutnya bukan cuma sekedar sakit kepala biasa."

"Tidak perlu." Jimin yakin tangan Taehyung yang bergerak disana. Ia ingin menolak, tapi rasa nyaman membuatnya enggan menuturkan, "Aku mual."

"Ayo, aku antar ke kamar mandi."

"Tapi tidak ingin muntah. Cuma mual." Jimin membalikkan posisinya. Matanya melihat mesin diffuser yang ada diatas nakas. Mengepulkan asap tipis yang bau minyak atsiri.

"Mau aku matikan diffusernya?" Dari tatapan Jimin. Taehyung pikir saudaranya itu merasa tidak nyaman. Tapi Jimin menjawabnya dengan gelengan kepala, "Masih sakit?"

"Sedikit. Disini." Jimin menunjuk bagian tengah dari dahinya. Letaknya ada diantara alisnya. Bagian itu yang paling kuat berdenyut-denyut barusan.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang