Tragedinya

82 9 4
                                        

3272 Kata

°•°•°

Berdiri kaku, di samping meja kerja Ayah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berdiri kaku, di samping meja kerja Ayah. Tangannya berusaha tegar, tidak gemetar saat jemarinya mencengkram erat botol mencurigakan yang baru saja ia temukan.

Hembusan napasnya tidak beraturan,  macam gelombang laut yang ditarik badai. Kemarahan jelas membara, dimata Taehyung yang tidak gentar menentang netra milik Ayahnya.

"Apa ini, Yah?" Tanya yang terdengar serak. Hampir pecah, saat botol itu Taehyung letakkan di atas meja, tepat di hadapan Ayah, "Kenapa ada di laci meja Ayah?"

Tidak terkejut, sorot mata tenang, agak tajam dan dalam—tetapi kemarahan tidak membabi-buta dalam raut wajahnya—Ayah tetap pada wibawanya sebagai seorang Ayah. Tangannya bergerak, meraih botol itu—santai, seolah hanya botol vitamin biasa.

"Anak-anak tidak perlu tahu. Ini urusan orang dewasa." Jawab Ayah dengan luar biasa kalem.

Lantas Taehyung menggeleng—kebohongan Ayah terlalu busuk hingga mustahil untuk ditutupi, serapat apapun, "Urusan orang dewasa?" Berdecih, menggelegak sudah amarah sampai ke ujung lidah, "Meracuni seseorang misalnya. Itu yang Ayah sebut urusan orang dewasa?"

Sejenak berlalu, hanya dengan Ayah yang menatap cukup lama. Netranya gelap, sulit terbaca—seperti air yang membeku, tenang tapi mematikan. Kemudian senyum tipis terbit, menarik kedua sudut bibir Ayah—sedikit, "Jaga bicaramu, Taehyung."

"Ayah yang seharusnya menjaga sikap. Tidak semua yang menurut Ayah solusi itu benar, Yah!" Nada bicara Taehyung meninggi cepat, retak di ujung, "Ayah hampir membunuhnya, Kau hampir membunuh anakmu sendiri!"

Senyum tipis di wajah Ayah menghilang perlahan, tergantikan tatapan kosong yang dingin. Dengan mantap, maju selangkah lebih dekat. Menatap tepat di mata Taehyung—seolah menusuk secara tidak langsung, "Perhatikan nada bicaramu, Taehyung. Jangan melewati batas."

Sekilas Taehyung mendongak, menghalau air mata yang hampir tumpah. Matanya memerah, berkaca-kaca—menahan rasa muak yang merajai hatinya.

"Ayah, Ayah yang sudah melewati batas. Kapan Ayah akan sadar?" Rahang Taehyung mengeras. Genggaman pada ponsel dan botol di masing-masing tangannya semakin erat, "Saat Jimin mati? Atau saat aku yang mati, Yah!"

"Kim Taehyung!" Menggelegar suara Ayah, seolah mampu menembus dinding ruangan. Ketenangan Ayah retak—oleh rasa tidak terimanya.

Tidak mundur, minim kelesah. Masih menatap lurus pada mata Ayah, tidak sedikit pun beralih pada keraguan seperti anak-anak yang ketakutan.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang