Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebenarnya banyak yang Jimin tidak paham tapi ia berusaha untuk tetap fokus memperhatikan. Didepan sana ada seorang guru yang tengah berjuang menjelaskan sebuah materi rumit dari angka-angka dengan teliti dan dibuat tampak mudah.
Mengerahkan metode mengajar yang menyenangkan supaya materinya dapat diserap oleh murid-muridnya.
Mungkin, bagi hampir seluruh penghuni kelas, yang disuguhkan dihadapan mereka hanya sebuah permainan angka. Otak mereka bekerja dengan cepat, membuat pemahaman dalam waktu yang tidak banyak. Jadi begitu sang Guru memberikan satu soal untuk dikerjakan sebagai percobaan, mereka-mereka yang mudah paham akan sangat lancar mengerjakannya.
Seperti berjalan di jalan mulus bebas hambatan.
Sementara Jimin, dibuat kebingungan. Alisnya terus mengeryit. Meskipun guru didepannya menawarkan sesi bertanya, Jimin enggan mengutarakan kebingungannya. Ia takut rasa ingin tahunya justru ditertawakan, atau membuat gurunya kesal sebab dirinya bebal. Jadi Jimin memilih diam.
Dua kali sesi bertanya ditawarkan, Jimin tetap menelan kebingungannya sendirian.
Ia tidak punya teman sebangku, jadi tidak ada peluang bertanya dengan bisik-bisik. Meja Taehyung juga letaknya berjauhan, memang benar-benar tidak ada harapan. Setelah guru itu menyelesaikan tugasnya dan berpamitan keluar kelas. Jimin memilih mengistirahatkan kepalanya diatas lipatan tangannya.
Taehyung sering membantunya disetiap malam untuk mengulas pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah. Lalu Jimin pula masih sering mencuri-curi waktu sampai mengikis jam tidurnya hanya agar ia bisa lebih paham dengan apa yang dipelajari. Beberapa guru bilang Jimin ada kemajuan, tapi tetap tidak seperti yang diharapkan.
Nilai Jimin tetap tidak bisa membuat Ayah senang.
Jimin pikir, ia harus berusaha lebih keras lagi. Mungkin, tidak tidur semalaman bisa membuatnya mampu mencapai ekspektasi Ayah.
"Kepalamu sakit lagi, Jim?" Tanpa perlu dilihat, cuma didengar saja suaranya, Jimin sudah tahu kalau yang menghampirinya pasti Taehyung. Cuma orang itu yang sengaja mengajak Jimin bicara, yang lainnya hanya jika perlu saja.
"Tidak." Syukurnya memang tidak. Meskipun kepala Jimin juga pernah beberapa kali berulah di jam-jam pelajaran sekolah. Tapi untungnya sekarang tidak.
"Bagaimana kalau kita ke ruang kesehatan. Bertanya pada Kak Hee-Soo tentang sakit kepalamu. Ini terlalu sering untuk terus diabaikan, Jim." Taehyung memikirkan ini semalaman, sejak kemarin, kemarin lusa lagi, terus-menerus semenjak ia melihat Jimin sering mengeluhkan sakit kepalanya.
Benar kata orang, kalau ada rasa sakit yang dirasa, jangan sesekali bertanya pada internet. Jawabannya hanya akan membuat kecemasan semakin berutal. Sebab Taehyung melakukannya hari itu, karena khawatir kalau Jimin terlambat dapat penanganan.