Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terpanjang di dinding ruang pameran, nama Jimin juga terpasang disamping lukisannya. Ini mungkin tidak membanggakan, karena bukan ranah nasional atau internasional. Tapi bagi Jimin, ada euphoria tersendiri saat matannya memandang lukisannya. Karya yang harus ia buat ulang, sebab yang sebelumnya tertinggal di rumah Ayah. Untungnya ada Paman Sung-Joon, suami dari Dokter Mi-Seon yang mau membantu Jimin mengerjakan tugasnya, supaya cepat selesai.
Dibanding dengan hasil kelompoknya atau dari kelompok kelas lain, mungkin milik Jimin tidak terlalu bagus. Tidak ada warna sebab konsepnya memang monochromatis, tapi kalau dilihat-lihat lagi, lumayan untuk dipertontonkan, setidaknya tidak terlalu memalukan. Tiga tangkai bunga mawar yang Jimin gambar, bisa terdefinisi dengan jelas. Berarti bentuk dari gambarnya bisa tersampaikan pada audience yang melihat.
"Pasti ini maknanya dalam." Begitu suara asing masuk pendengaran, kepala Jimin langsung tertoleh ke sumber suara, "Kalau aku lihat-lihat. Pasti suram filosofinya." Presensi itu, Hyeon-Gi. Menunjuk lukisan Jimin, juga memasang raut menjengkelkan, "Artist dari lukisan ini, memang seleranya buruk. Atau, dia tidak punya selera. Karena memang hidupnya, sehitam putih itu."
Memang suka cari gara-gara. Hyeon-Gi dan mulut serta rautnya itu memang paket lengkap untuk dihajar. Senang sekali bertindak kurang ajar. Kalau bukan karena banyaknya orang, sudah Jimin pastikan Hyeon-Gi mendapat pelajaran dari kepalan tangannya.
"Tapi ini oke, Jim." Menoleh pada Jimin, "Untuk ukuran pelukis seperti dirimu. Ini cocok. Sangat menggambarkan kepribadianmu secara presisi dan detail." Menunjukkan Ibu jarinya, "Hebat, Good Job, Jim."
Benar-benar tidak enak dilihat, senyum Hyeon-Gi mengerikan, "Oh Ya, aku tidak melihat guardian angelmu daritadi. Kemana dia?" Celingak-celinguk seperti orang bodoh, itulah yang tengah Hyeon-Gi lakukan, "Tumben, tidak jadi ekormu."
Tapi Jimin mana peduli. Ia memang merasa terganggu sebab mulut Hyeon-Gi terlalu berisik. Namun rasanya sangat konyol kalau sampai ia rela menggelontorkan suara apalagi tenaganya hanya untuk meladeni kebodohan orang itu. Ini momen yang berharga, Jimin sedang menikmati pencapaian yang bisa ia banggakan untuk dirinya sendiri.
"Jimin-ah, aku tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Daripada kau membuang-buang tenaga mendorong otak bodohmu. Lebih baik menggunakannya ditempat yang tepat. Sekolah seni misalnya." Kedua tangan Hyeon-Gi bergerak, membentuk gestur yang seolah membingkai lukisan Jimin, "Kalau dilihat-lihat, lukisan ini jauh lebih baik daripada nilai matematikamu yang hasil rekayasa kemarin."
Kontan Jimin memejamkan matanya. Pembodohan yang Taehyung lakukan terhadap nilai ujian Jimin adalah hal buruk yang berusaha ia lupakan. Tapi Hyeon-Gi malah sekonyong-konyong mengingatkan, membuat Jimin kembali merasakan betapa jengkel dan kecewanya ia saat itu.