Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seolah habis diperas gelap, pagi ini netra Jimin kehilangan cahayanya. Ada bayangan hitam dibawah matanya, sisa-sisa malam yang tidak sempat dirapikan pagi.
Dan respon alamiah tubuhnya yang kurang tidur ternyata tertangkap oleh mata Dokter Mi-Seon. Makanya saat sarapan tadi, wanita itu sempat bertanya, "Sepertinya semalam Jimin kurang tidur, ya?"
Pengamatan yang sangat cepat, padahal Jimin belum menyentuh kursi meja makan sedikit pun.
Sekarang, Jimin tahu kenapa pertanyaan itu bisa meluncur padanya. Refleksi diri yang terpantul lewat cermin wastafel di kamar mandi sekolah sudah cukup menjelaskan betapa buruknya penampakan Jimin saat itu.
Warna pucat menempel di wajahnya. Tindakan membasuh wajah justru membuatnya semakin terlihat berantakan—kusut dan sembarangan—seperti anak kucing kehujanan.
Tidak ada yang menarik, sorot mata Jimin seperti lubang tidak berisi—hampa.
Lalu getar dari ponsel dalam saku celana menghentikan Jimin dari kegiatan memandang wajah suntuknya.
Satu pesan baru masuk, datangnya dari Ayah—berisi penjadwalan ulang bimbingan belajar.
Dan wejangan super menekan, "Itu jadwal yang baru. Kalau merasa bodoh, berhenti mengacau. Ayah tidak akan begini kalau Kau bisa diajak kerjasama sejak awal."
Agak lama Jimin menatap ponselnya, menahan desiran tidak nyaman yang mencuat di hati. Tidak ada niatan membalas, atau menghapus pesan yang baru saja dibaca.
Malah memasukkan kembali ponselnya kedalam saku—tanpa mampu mengabaikan.
Sekali lagi memandang pantulan wajahnya, kemudian melakukan sedikit latihan menata semu muka.
Setidaknya berusaha agar tidak tampak seperti mayat hidup yang menakutkan, atau gelandangan yang minta diberi belas kasihan.
Dengan raut yang ia usahakan sedemikian rupa, langkahnya bergerak keluar dari kamar mandi. Menyusuri lorong sekolah yang tiba-tiba dipenuhi langkah-langkah terburu-buru.
Diantara riuh yang mendadak terdengar, langkah Jimin nyaris seperti bayangan—ada tapi tidak terasa.
Sementara ditengah lapangan anak-anak lain berkerumun, membentuk lingkaran cukup rapat dengan pergerakan yang kacau. Suara kegaduhan, kepanikan, ikut terdengar juga—jelas sampai ke tempat Jimin berdiri.
Dan ketika beberapa guru mulai berlari, disanalah Jimin menyimpulkan ada hal tidak beres yang tengah terjadi.
Jimin sendiri hanya terdiam ditempatnya, tidak ingin mendekat karena memang tidak tersirat rasa penasaran dalam hatinya. Ia justru berniat melangkah pergi, menghindari kekacauan yang sedang terjadi—cari aman dengan mengabaikan.