Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini kedengaran konyol, tapi Jimin benar-benar ingin kursi yang ia duduki bisa menelan dirinya sekarang, atau berharap tubuhnya bisa mengecil tidak terlihat dalam waktu singkat. Suasana yang seharusnya menyenangkan dalam balut kehangatan, justru membuat Jimin terjerembab dalam kecanggungan, tidak ada pilihan selain diam.
Ayah ada dihadapannya, duduk disamping Ibu Taehyung. Mereka terlihat menikmati makanan yang terhidang diatas meja. Sedang Taehyung sendiri ada disamping Jimin, orang itu juga sama, kelihatan begitu nyaman. Agaknya hanya Jimin satu-satunya yang bertikai dengan ketidak nyamanan yang mencuat dari dalam dirinya.
Mungkin bagi Taehyung, pergi keluar dengan orang tuanya dan makan bersama di restoran sesuai reservasi adalah hal yang biasa. Tapi bagi Jimin ini begitu asing, ia terus menyangkal kenyataan dan berpikir tengah memasuki mimpi atau bentang khayalannya saja. Jimin merasa semakin kacau saat pikirannya mulai beradu. Realita dan pembodohan saling mendorong didalam kepalanya.
Makanan yang seharusnya enak, jadi terasa begitu hambar, padahal bentuk penyajiannya cukup menarik. Sayangnya, perut Jimin tidak bisa diajak kerja sama, seberusaha apapun Jimin menjejalkan sesuap demi sesuap kedalam mulutnya. Ada gejolak di lambungnya yang menekan ulu hatinya, menciptakan rasa sakit absolut.
Jimin tidak ada niatan untuk mengacak-acak acara makan malam yang sudah Ayah susun sedemikian rupa. Ia masih berusaha bertahan, dan tetap menunjukan gelagat yang normal. Menahan rasa tidak nyaman yang terus mendesaknya. Tapi ternyata, rasa mual yang datang semakin menggila. Membuatnya tidak lagi sanggup berpura-pura.
Jimin langsung menggeser kursinya, "Aku ke toilet sebentar." Berjalan tergesa-gesa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Membuka salah satu bilik toilet begitu sampai, Jimin langsung berjongkok didepan kloset. Menuntaskan rasa mualnya, meski tidak seberapa yang keluar. Kedua tangannya terkepal kuat, menyembunyikan getaran disana. Terasa basah berkeringat.
"Jimin." Tidak lama suara Taehyung terdengar, bersama dengan pijatan kecil yang bisa Jimin rasakan di tengkuknya, "Sudah?"
Jimin mengangguk, mendudukkan dirinya menjauhi kloset didepannya. Taehyung langsung menekan tombol flush, lalu dengan sigap membantu Jimin berdiri, memapahnya mendekati wastafel.
Tangan Taehyung sudah bergerak hendak membatu Jimin membasuh wajahnya, "Aku saja." Namun suara Jimin menghentikan tindakannya, "Harusnya tidak usah mengajakku, Tae."
Sebenarnya, kecemasan Jimin sudah muncul sejak dirumah, tepatnya saat Ayah tiba-tiba mengajak Jimin ikut serta dalam acara makan malam keluarga. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Jimin alami, dan perkara ini membuat Jimin memikirkan banyak hal. Menduga-duga apa kiranya yang akan terjadi kalau dirinya ikut bergabung setelah selama ini tidak pernah diikut sertakan.