Pemikirannya

129 21 2
                                        

1424 Kata

°•°•°

Bukan lagi stigma masyarakat yang telah Jimin hadapi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukan lagi stigma masyarakat yang telah Jimin hadapi. Rasa menyakitkan dari tatapan orang asing diluar sana sudah Jimin wajarkan. Membuat hatinya perlahan menebal dan kebal. Tapi kalau soal tutur Ayah, yang berisi stereotip negatif tentangnya, Jimin masih belum punya counter untuk menangani rasa menyesakkan yang datangnya dari sana. Sesuatu yang meresap kedalam hatinya tanpa mampu dicegah. Meski Jimin berusaha mengelak, tetapi ucapan Ayah selalu berhasil menganggu pikirannya. Walaupun sudah berjam-jam setelahnya.

Seperti yang terjadi beberapa saat yang lalu. Ayah mengatakan banyak hal yang menyakitkan. Mulai dari kebodohan Jimin yang diungkit habis-habisan, harga dirinya yang diinjak, seluruh aspek dalam dirinya dibanting jatuh dan dibandingkan dengan Taehyung. Lalu satu lagi, kejadian beberapa hari yang lalu dimana Jimin hampir melukai Taehyung, dibahas secara berulang-ulang, dan setiap kata selalu mampu menyudutkan Jimin sebagai pihak yang bersalah.

Tatapan kecewa Ayah, tuturnya yang tegas dan tajam. Masuk dengan begitu kasar kedalam pendengaran Jimin.

'Anak itu, dia bukan menderita. Tapi tidak tahu diri namanya. Membalas kebaikan Ayahnya dengan pemberontakan yang gila.'

'kalau kau ingin perhatian dan diperhatikan, cobalah untuk jadi berguna. Pakai otakmu untuk berpikir hal-hal penting. Bukannya mengotori dirimu dengan masa lalu yang tidak ada gunanya.'

'Sebanyak apapun kau menyalahkan Ayah dan Ibumu apalagi Taehyung, tidak akan bisa membangkitkan Ibumu dari kematian, Jimin. Sadar! Yang kau lakukan ini percuma, tidak ada gunanya.'

'lelah Ayah meluruskan kewarasan berpikir mu.'

Sama saja, Jimin juga lelah dengan dirinya sendiri. Bukannya ia tidak mau membuang hal-hal menyedihkan dalam dirinya, tapi mereka selalu datang. Mengambil tempat paling dalam, yang sulit Jimin gapai, dan malah membuat kekosongan yang besar. Rasa hampa yang tidak jelas dimana tempatnya, tidak terdefinisi tapi Jimin bisa merasakan hal itu menekan dan cukup menganggu ritme perasannya.

Jimin menatap kembali ponselnya, pesan singkat dari Dokter Mi-Seon masih tertera dilayar. Belum Jimin balas, hanya baru dibaca saja. Isinya, 'datang kapanpun Jim. Bibi siap saat kau siap.' tentang ajakan bertemu.

Jimin yakin, Taehyung sudah bercerita banyak hal pada Dokter Mi-Seon tentang pertengkaran Ayah dengan Jimin barusan. Terlihat dari gelagatnya, Taehyung yang tampak paling gelisah. Saat Ayah marah dan Ibu tirinya hanya meredam ala kadarnya, cuma Taehyung yang kelihatan paling berusaha menghentikan luncuran tajam yang keluar dari tutur Ayah. Orang itu yang paling panik saat Jimin menyudahi konversasi tegangnya dengan melarikan diri, dan mengunci diri didalam kamarnya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang