Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bunyi 'klik' dari pulpen mekanik yang di tekan, berulang kali memenuhi ruangan. Seperti detik jam yang mengukur beratnya suasana.
Di kursi kerja, Dokter Mi-Seon terdiam—tetapi bukan kosong. Matanya menatap catatan di atas meja, map rekam medis, dan satu Compact Disc—semuanya atas nama Jimin.
Pikirannya menyimak ulang, apa saja yang sudah ia kumpulkan selama beberapa minggu pengamatan terhadap Jimin, sebagai potongan-potongan untuk nanti disatukan jadi hasil akhir—meski prosesnya masih pajang, setidaknya Ia punya Hint agar semua yang dilakukan tidak berakhir di jalan buntu tanpa solusi.
Mulai menyusun guna menarik benang merahnya.
Lalu tarikan napas pelan, mendahului pergerakan tangan, mulai membuka map biru tua di hadapannya—dokumen tiga belas tahun yang lalu. Perlahan tapi pasti, membaca kembali isinya mulai dari point pertama hingga lampiran tambahan yang berisi gambar-gambar Jimin dan catatan pribadi klinis darinya.
"Gangguan perilaku pasca kematian Ibu kandung."
Itulah yang tertulis pada halaman pertama dari rekam medis Jimin, dibagian keluhan, yang diajukan oleh Ayah Jimin sendiri—Kim Min-Seok.
"Putraku, sejak ibunya meninggal. Jadi sedikit lebih sensitif. Sulit tidur, kadang menangis tanpa alasan. Kupikir dia hanya sedang rindu Ibunya. Tapi sekarang dia jadi mulai melamun di kelas, gurunya bilang dia susah fokus."
Tiga belas tahun lalu, Min-Seok mengatakan semua itu saat pertama kali membawa Jimin menemui Dokter Mi-Seon. Pria itu juga mengatakan jikalau, Ibu Jimin meninggal karena sakit.
"Karena sakit. " Ayah Jimin menjawab cepat, dengan begitu bulat dan mantap, "Penyakit turunan, yang sudah lama diderita. Tapi baru terdeteksi saat kondisinya parah. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pada akhirnya Tuhan berkehendak lain."
"Jimin tidak banyak tahu soal penyakit Ibunya. Aku berusaha menjaganya dari semua itu. Bahkan dia tidak melihat saat ibunya meninggal. Semuanya terjadi di rumah sakit. Aku ingin, putraku tetap mengingat Ibunya dalam keadaan baik."
Saat itu Dokter Mi-Seon memilih mengangguk saja dan mempercayai ucapan Min-Seok, mencatat semua ucapan pria itu tanpa terlewat satu kata pun. Meski sebagai orang yang punya lumayan banyak jam terbang dan menghadapi berbagai gestur manusia, sudah mencium bau-bau mencurigakan.
Karena Jimin sendiri, saat itu terlihat terlalu tenang untuk bisa disebut sekadar ditinggal oleh seorang Ibu karena 'sakit biasa'—terlalu kosong, dan terlalu dingin. Tatapan anak itu juga tidak biasa—seolah penuh, tapi tertahan.