Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Membolak-balik tangan, memperhatikan bebat yang melilit pergelangan tangan. Menyentuhnya, dengan telunjuk—seolah memastikan luka itu nyata, dan Jimin mencoba menyusuri kronologi awalnya—yang pecah dalam pikiran, terbagi dalam beberapa fragmen yang kacau.
Namun semakin keras berusaha menyusun, semakin samar pula semuanya terasa.
Goresan, suara benda pecah, jeritan kencang dan tangis samar, lalu senyap.
Mengingat tangannya gemetar, dirinya duduk di lantai kamar, dalam waktu yang terasa sangat panjang—lalu suara pintu terbuka, langkah cepat, dan cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan.
Kini, semua terasa hampa.
Lantas Jimin mengangkat pandangannya, menatap langit-langit ruangan yang putih bersih dan asing. Kedua tangannya bertaut erat diatas pangkuan. Berat untuk sekedar menarik napas.
Kemudian, atensinya perlahan berubah gelisah. Bergerak tidak tentu arah, mencari-cari sesuatu yang tidak ada di sekitarnya—buku catatan, rangkap materi, jadwal ujian. Memicu datangnya rasa gugup secara tidak beraturan—seperti mengganjal hati, semacam ada yang tertinggal, dan harus Jimin lakukan—secepatnya.
Lalu datanglah kebisingan, dipersekian detik berikutnya. Membuat Jimin kontan memejamkan mata, berusaha mengusir apa yang memenuhi kepala dan menekan kuat benaknya. Hingga, keringat dingin menuruni pelipis. Giginya bergemeletuk, bukan karena kedinginan—tetapi karena degup jantungnya berdetak kencang, seolah menggedor rongga dada.
Berubah panik, tanpa sebab yang pasti.
Pikirannya terus melompat-lompat, Mulai dari Ayah, luka di tangannya, lalu Taehyung, dan waktu belajarnya yang terhambat. Terkadang juga ditambah dengan suara tawa yang entah datang darimana, tiba-tiba muncul dalam kepala, kemudian menghilang—begitu saja.
Ia bahkan tidak bisa membedakan, mana yang telinganya dengar secara nyata dan mana yang hanya bergema dalam kepalanya.
Yang bisa Jimin lakukan hanya, berusaha menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri sendiri. Meski, yang terjadi justru pikirannya tambah berat dan kacau.
Sama seperti terjebak di ruang sempit dengan suara yang memantul dari segala arah—mengepung, tidak ada jalan keluar—nihil bersembunyi apalagi melarikan diri.
"Berisik." Gumamnya, nyaris tidak terdengar. Ditujukan entah pada siapa, secara tidak pasti—antara kebisingan dalam kepalanya, atau detak dari detik jam dinding yang seolah makin cepat ritme ketukannya.
Hawa dingin mulai merayap, menguasai seluruh permukaan tangannya. Meski mencoba menggenggam erat selimut diatas pangkuannya, jemarinya tetap gemetar—menahan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.