Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak benar-benar tidur, hanya terpejam sebentar lalu terbuka lagi, begitulah cara Taehyung mengistirahatkan matanya sejak semalam. Tidak bisa tenang barang sedetik pun.
Meski matanya perih dan tubuhnya gemetar menahan kantuk, pikirannya tetap waspada. Terpaku penuh harap pada wajah tenang Jimin.
Jemarinya masih menggenggam tangan Jimin. Menyalurkan kehangatan lewat tangannya pada tangan Adiknya yang sedikit dingin.
Lampu tengah masih menyala redup. Meski matahari pagi sudah menyingsing di luar, Taehyung tidak berani membuka tirai—sebab ia tahu, Jimin tidak suka ruangan yang terlalu terang, dan ia tidak mau membuat Adiknya marah saat bangun nanti.
Karena ia juga sudah berjanji, akan membiarkan Jimin melakukan hal yang disukai dan menjauhi apa yang dibenci. Jadi sesepele sinar matahari pun, akan Taehyung hindari meskipun itu baik dalam konteks kesehatan.
Lalu, tiba-tiba Taehyung melihat satu perubahan. Napas Jimin yang sebelumnya tampak teratur, perlahan terdengar lebih dalam. Jarinya sedikit bergerak, lalu kelopak matanya juga.
Hal yang membuat Taehyung seketika menegakan tubuhnya. Degup jantungnya langsung berdetak dua kali lebih cepat. Matanya terbuka lebar, menanti—tidak ingin terlewat satu detik pun.
"Jimin-ah." Panggilnya pelan, hampir tidak percaya.
Bulu mata Jimin tampak bergetar, sebelum akhirnya kelopak mata itu terbuka perlahan—sepasang mata yang terlihat bingung dan kosong menatap langit-langit.
"Jimin-ah." Lalu berpindah pada Taehyung yang kembali bersuara.
Seketika Taehyung menahan napasnya. Jimin sadar—dua kata yang terus bergema di kepalanya.
Tidak menunggu respon atas panggilannya, ia kembali bicara.
"Hei." Berbisik pelan, bersama senyum yang bersemi di wajahnya. Gugu pada penuh harap, mengeratkan genggamannya, "Sudah selesai mimpinya, Adik nakal?"
Kemudian menepuk pelan punggung tangan Jimin, "Terima kasih sudah bangun, Jimin-ah."
Meski tatapan Jimin tidak membalas senyum Taehyung, lebih ke menajam dalam ketidakpercayaan—kaku seolah mencoba memastikan antara mimpi dan kenyataan. Benar Taehyung yang duduk disampingnya atau hanya halusinasinya saja.