Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alis Jimin bertaut. Setelah meniup udara kedalam kantung plastik yang ia ikat ujungnya, kini tangannya sibuk mengoleskan cat kepermukaan plastik yang menggembung. Ini adalah tugas seni, dimana satu-satunya mata pelajaran yang bisa diterima otak Jimin secara terbuka. Daya pikirnya berjalan sebagaimana semestinya, tidak memiliki hambatan, dan terasa normal-normal saja saat proses pencarian ide yang akan dituangkan.
Kelasnya akan mengikuti acara pameran tahunan yang diselenggarakan sekolah. Semua orang dibagi dalam tugasnya masing-masing, dibentuk dalam beberapa kelompok dengan bagian-bagian yang berbeda.
Untungnya, Jimin tidak masuk dalam tim yang berencana melakukan eksperimen fisika menakjubkan, yang perlu perhitungan secara presisi. Bersyukurnya ia tidak dijadikan bulan-bulanan untuk direndahkan, karena wali kelasnya cukup paham jikalau Jimin punya banyak kekurangan dibidang pengasahan otak kiri.
Jadilah Jimin ada dibagian seni. Ia berencana membuat lukisan simple dengan cara yang simple juga, tapi hasilnya masih ideal untuk dipertontonkan.
Mudah saja, ia hanya perlu menekan bagian ujung dari plastik yang sudah ia warnai, pada permukaan kertas. Sistemnya persis seperti stample. Dari kerutan kerutan yang tercipta akibat tekanan, menciptakan garis yang seolah-olah seperti tumpukkan kelopak bunga.
Jimin melakukannya sebanyak sepuluh kali. Lalu ia perindah dengan beberapa coretan kuas, hingga tampak seperti lukisan sebuket bunga mawar merah yang mekar.
Mudah, tidak membuang banyak waktu, dan pastinya cepat selesai. Kali ini ia menyelesaikannya tanpa hambatan, tanpa kesulitan dan tepat waktu. Sebab masih ada tugas lain yang perlu dikerjakan, pastinya prihal matematika dan fisika yang tidak pernah usai-usai membuat pusing kepalanya. Meskipun tugasnya datang dari guru pembimbingnya, tetap saja bukan harus Jimin kerjakan. Guru disekolah atau guru les, sama saja.
Mengesampingkan lukisannya yang sudah selesai. Menunggu cat yang tergores disana kering. Jimin mengambil bukunya, membuka halaman dimana soal yang ia tuju bersemayam. Tidak banyak sebenarnya, hanya tiga soal. Tapi Jimin tahu, jawabannya tidak sesimple soalnya. Pasti ada turunan panjang yang harus ia jabarkan dengan menghubungkan angka bersama kali, tambah, bagi dan kurang dalam satu bentuk yang disebut rumus. Bagian yang selalu membuat Jimin merasa nyaris gila, sebab kesulitannya untuk paham.
Mulai dari dijelaskan disekolah, lalu secara personal lewat guru les, ditambah penjelasan lewat video internet yang bisa diulang-ulang, masih saja bebal. Jimin tidak paham kenapa dirinya begitu lambat mengerti, bahkan cenderung kesulitan. Terkhusus pada dua mata pelajaran mematikan itu.
Jimin menulis bagian awal rumus sebagai permulaan menuliskan jawaban. Tapi saat ditengah-tengah seharusnya Jimin bisa menyelesaikan, ia justru dibuat bingung. Tidak tahu harus melakukan apa, harus dibuat seperti apa rumus setengah jalan yang sudah ia tulis diatas kertas bukunya.