Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menerjapkan mata berulang kali, menatap lembayung senja yang pudar di luar rumah sakit. Pening kepala Dokter Mi-Seon sejak tadi tidak kunjung reda, akibat gelas ketiga americano yang ia habiskan, setelah perbincangan dilematis dan penuh tekanan dengan Min-Seok.
"Aku akan tetap membawa Jimin pulang."
Tidak peduli hasil laporan, atau kenyataan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Min-Seok masih berpegang teguh pada keputusan yang sama.
"Kurasa rawat inap tidak diperlukan. Itu sangat berlebihan."
Duduk bersilang kaki di depan Dokter Mi-Seon, satu tangan Min-Seok memegang ponsel, sedang satu tangan lainnya mengetuk ringan di sisi sofa-teratur, tenang, nyaris menyebalkan.
"Jimin hanya perlu dekat dengan keluarganya. Remaja Sepertinya memang tidak bisa jauh dari orang tuanya, supaya tetap terkendali."
Bicara dengan nada tenang, raut datar dan kalimat penuh penilaian. Ya, Min-Seok Dimata Dokter Mi-Seon sangat tidak manusiawi.
Menarik napas sejenak, menekan rasa ingin menonjok wajah Min-Seok sekuat tenaga. Sebelum mengatakan, "Itu tidak berlebihan Min-Seok-ssi, dan sangat diperlukan."
"Setelah insiden pagi tadi, dan hasil observasi sejauh ini. Rawat inap tetap disarankan, agar Jimin mendapat penanganan terbaik untuk menjaga keselamatannya dan juga orang-orang disekitarnya."
Senyum tipis muncul di wajah Min-Seok, "Aku yang paling tahu apa yang terbaik untuk anakku. Di rumah jauh lebih baik daripada dimana pun."
Terdiam sepersekian detik. Mata Dokter Mi-Seon menyipit sedikit, bukan curiga apalagi marah, tetapi hati-hati. Bicara dengan Ayah Taehyung dan Jimin itu perlu lebih dari sekedar argumen logis, perlu juga ketegasan dan pertahanan untuk tidak terbawa permainan kata yang pria itu lancarkan.
"Kalau memang menurutmu begitu," ucap Dokter Mi-Seon dengan suara pelan namun tetap terdengar jelas, "Kenapa hidup Jimin bisa kacau, bahkan di bawah atap rumah yang kau sebut lebih baik dari tempat mana pun?"
Senyum Min-Seok belum luntur. Ia menoleh sedikit kearah jendela, seperti tengah menikmati pemandangan lagi, "Harusnya kau lebih tahu Mi-Seon-ssi, kalau remaja memang suka dramatis. Satu luka tidak bisa menjadi dasar menyimpulkan sesuatu yang sebesar itu."
"Satu luka?" Gila, bagaimana kalimat seburuk itu bisa keluar dari Min-Seok yang notabene seorang Ayah. Dokter Mi-Seon sangat sulit mempercayai apa yang tengah terjadi sekarang, "Ini bukan cuma satu luka, ini tentang seluruh hidup putramu. Banyaknya luka di tubuh Jimin adalah cerminan dari luka yang sudah terlalu lama diabaikan."