Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disatu meja panjang dalam perpustakaan, ada Jimin dan guru Hwang yang duduk saling berseberangan. Dengan buku-buku pelajaran yang berserakan diatas meja—jejak perjuangan mereka, dalam kegiatan kelas tambahan.
Seperti biasanya.
Suara ujung pensil Jimin yang beradu dengan permukaan kertas—satu-satunya bunyi yang dapat didengar selain helaan napas letih Guru Hwang, yang tengah mengurut pangkal hidungnya.
Tidak ada murid lain, tidak ada suara kursi yang bergeser, atau bisik-bisik antar pelajar, tidak ada kebisingan lainnya.
Hanya mereka berdua—ditengah luasnya perpustakaan, yang menjelma jadi ruang hampa—hening dan lengang, seperti matahari yang sudah tenggelam diluar.
"Kalau mau cepat paham, tipsnya itu mengulang." Entah ini sudah yang beberapa kali, Guru Hwang sendiri lupa dengan hitungannya. Intinya, kalimat yang ia ucapkan tadi sudah seperti ritme pernapasan setiap kali berhadapan dengan Jimin.
Terus ia ulang-ulang, tanpa tahu maknanya betul-betul sampai pada Jimin atau tidak. Sebab bebalnya tidak hilang-hilang. Bahkan berkurang pun tidak.
Mirip sekali seperti menanam benih di tanah tandus—tidak ada tunas yang tumbuh, tidak ada perubahan.
Sedang respon Jimin tiap kali ia mengatakan hal yang itu-itu lagi, hanya mengangguk-angguk saja
Ada sedikit keluh kesah, yang ingin Guru Hwang bagikan, tentang awal-awal kelas tambahan ini dimulai.
Sejujurnya ia merasa sekarat dan dunianya seakan-akan mau kiamat.
Ini bukan masalah berlebihan, tetapi memang rasanya seperti meniup angin ke ruang hampa—tidak ada gema, tidak ada tanggapan.
Dan ia luar biasa frustasi menghadapinya.
Sebagai guru, ia merasa tidak cakap. Studinya selama bertahun-tahun, metode pembelajaran yang ia pelajari dengan dasar riset-riset, semua seperti terpental ketika berhadapan dengan Jimin.
Sama sekali tidak mempan.
Hanya karena Jimin sulit sekali menerima pemahaman darinya. Sulit mencerna materi-materi pelajaran yang ia ajarkan. Ia jadi meragukan dirinya sendiri sebagai tenaga pengajar.
Sempat pula berpikir, metode belajarnya kurang tajam.