Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Temaram tidak terlalu terang, lembut cahaya menyebar dari lampu di tengah ruang—tetapi cukup untuk menerangi wajah Jimin yang terbaring diam. Berteman suara ritmis dari mesin monitor detak jantung. Juga hembusan napas pelan dari Jimin.
Taehyung duduk di sisi ranjang, tidak sekejap pun melepas genggamannya pada tangan Jimin. Meski telapak tangannya mulai basah berkeringat, ia tetap menggenggam erat. Seolah takut, Adiknya akan pergi jika ia longgarkan sedikit saja.
Setia memandangi wajah Adiknya yang masih memejamkan mata. Setiap detiknya terasa lambat, seakan waktu enggan bergerak sebelum Jimin membuka mata.
Ini jarak paling dekat antara dirinya dan Jimin, setelah perdebatan panas mereka di belakang sekolah tempo hari.
Sumpah, usai kejadian itu. Taehyung tidak pernah punya cukup keberanian untuk menatap wajah Jimin lagi, atau muncul dihadapannya seperti orang yang saling mengenal.
Ia memilih berusaha menghindar lebih keras dari sebelumnya. Rasa bersalah yang mengendap, membuatnya lebih sering menghilang. Terkadang rasa lelah membuatnya meliburkan diri, berharap tindakan itu mampu meredakan sakit hatinya.
Padahal kenyataannya tidak. Tidak reda sama sekali.
Tetapi seujung kuku pun Taehyung tidak pernah meminta untuk dipertemukan dengan Jimin dalam jarak dekat, di kondisi yang sekacau ini. Tidak pernah.
Inginnya, ia bisa menggenggam tangan Jimin lagi seperti dulu saat mereka masih kecil. Saat pergi bermain layangan, berangkat sekolah atau mampir ke rumah tetangga ketika musim persik tiba.
Bukan seperti ini.
"Hei, Jimin-ah." Rasa tercekat suaranya, serak seolah ada batu besar yang tersangkut di tenggorokan, "Masih belum mau bangun ya?"
Ibu jarinya perlahan mengusap punggung tangan Jimin, lembut dan penuh harap. Meski tidak dilihat, Taehyung tetap berusaha tersenyum—walau hanya kegetiran yang tampak dalam lengkungan bibirnya.
"Sedang mimpi apa, sih?"
Taehyung menunduk, saat dirasa matanya kembali memanas. Buah dari penyesalan, ketakutan dan kemarahan yang melebur jadi satu.
"Jimin tidak hanya mengalami luka yang cukup dalam ditangannya. Ada luka-luka lain, yang lebih lama."
"Tetapi bukan itu yang membuatnya lemah. Melainkan tekanan yang dia simpan selama bertahun-tahun."