Pertengkarannya

95 11 8
                                        

1750 Kata

°•°•°

Semakin banyak pembicaraan, semakin banyak pembahasan, makin dipikirkan, didebatkan, diolah kiri dan kanan, makin pula menaruh perhatian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semakin banyak pembicaraan, semakin banyak pembahasan, makin dipikirkan, didebatkan, diolah kiri dan kanan, makin pula menaruh perhatian.

Jimin adalah tipe yang tidak suka diganggu, tapi kata ganggu sangat menyukainya sampai datang dalam berbagai bentuk, dulu Taehyung, Hyeon-Gi, gadis cemilan, sampai sekarang Hyun-Jun juga masuk dalam daftar.

Jimin juga termasuk orang yang mudah terganggu, terdistraksi pikirannya, dan tergoyahkan hatinya. Terkadang, jika memang ia mau, rasa peduli bisa mekar dalam hati. Meskipun ada kadang kalanya juga sudah ditahan mati-matian untuk tidak mau memberi afeksi, tetap saja menyiksa hati sendiri.

Tapi kali ini, Jimin rela menempuh jarak untuk datang menemui Hyun-Jun dalam rangka menjemputnya. Dengan senang hati, keikhlasan seluas-luasnya sanubari, tanpa ada rasa dengki.

Bocah yang kadang membuat Jimin jengkel bukan kepalang, mampu juga rupanya menyelipkan diri dalam celah-celah hati sampai Jimin lebih memilih menuruti apa kata sanubari— menjemput Hyun-Jun.

Jimin berharap angin bertiup, panas sekali udara. Belum lagi ia harus berjalan masuk lumayan jauh untuk sampai di kelas Hyun-Jun. Pasalnya sekolah anak itu cukup luas, dari gerbang sekolahnya sampai kelas lumayan jaraknya. Memang tidak perlu sampai harus pakai kendaraan, tetapi tetap saja, berjalan itu'kan menggunakan tenaga, kalau jaraknya lumayan, tetap saja lelah pasti ada.

Beruntungnya dari kejauhan Jimin sudah bisa melihat presensi Hyun-jun, yang berdiri dengan seseorang disampingnya, tepat didepan kelasnya.

Bergegas Jimin menghampiri, supaya tidak banyak waktu terbuang dan mereka bisa cepat-cepat pulang.

Bagaimana pun, hari ini Jimin lalui dengan cukup berat. Ia ingin istirahat, supaya pikirannya tidak lari kemana-mana.

"Jun-ah." Jimin melambaikan tangan, hanya lambaian singkat, supaya anak itu menaruh atensi padanya.

Oh ya, tidak lupa juga Jimin memberi salam dengan sopan santun yang dijunjung tinggi kepada wanita di samping Hyun-Jun, "Okay, Jun-ah. Kakak Jun sudah datang untuk menjemput. Ibu Guru tunggu sampai sini saja ya, hati-hati dijalan oke."

Ya, guru sekolah dasar itu selalu ramah, baik raut wajah atau tingkah lakunya. Jimin merasa, semakin tinggi langkah menempuh pendidikan, perubahan sikap guru pun semakin signifikan, bisa dibedakan lewat senyumnya— sekolah dasar dengan senyum manis yang ramah paripurna, sedang sekolah menengah atas dengan senyum masam kecut luar biasa.

Ketegasan berlevel.

"Siap, Bu." Hyun-Jun membungkuk sopan, kemudian melambaikan tangan dengan wajah yang girang saat gurunya melangkah pergi.

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang