Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luka terbuka di bagian temporal kanan, dengan pendarahan aktif. Retakan pada tulang tengkorak samping—itulah yang Dokter katakan saat keluar dari ruang gawat darurat setelah berhasil menangani luka Ayah.
Lumayan parah, tapi bisa teratasi. Untungnya tidak ada pendarahan otak.
Penjelasan yang bahkan secara detail tidak mampu Taehyung lupakan, kendati kepalanya sudah penuh sesak luar biasa dengan banyaknya pikiran yang berputar-putar tidak tentu arah—bercabang-cabang. Ia tetap memastikan kondisi Ayahnya stabil—sudah melewati masa kritis dan Dokter perkirakan kemungkinan Ayah akan sadar dalam waktu dekat.
Sebelum akhirnya ia berdiam diri disana sekarang—kursi panjang lobi rumah sakit.
Tertunduk dalam, bertemankan suara langkah kaki dari banyaknya orang yang berlalu-lalang. Deru alat medis, percakapan antar perawat, atau orang berkepentingan lainnya—terdengar sayup dan jauh sekali. Seolah Taehyung seperti tengah tenggelam di dasar laut, tekanan membuat telingannya terasa kedap samar-samar.
Tarikan napas terasa berat, setiap detang jantung seakan menekan dadanya tanpa kira-kira—makin dalam saja tiap detiknya.
Ingatan-ingatan berkelebat, tentang sorot tajam Ayah, suara bergetar Ibu, dan Jimin, yang belum ia ketahui kabarnya saat ini. Lalu, pertanyaan sialan itu pun ikut datang, "Apa yang Ayah katakan itu benar?" Yang membuat renungannya makin keruh.
Lantas ia menegakkan punggung, mencoba meluruskan lajur napas yang terasa tersendat. Pandangan matanya beralih dari lantai putih yang dingin di bawah kakinya, ke arah layar LED besar yang terpajang di lobi rumah sakit.
Matanya terpejam kemudian, merasakan pergeseran kebisingan sekitar menjadi suara Ayah yang bergema di dalam kepalanya. Potongan-potongan perkataan Ayah terus berputar-putar tidak tentu arah, memenuhi pendengarannya.
"Kau pantas mendapat kebencian, Ji-Won."
Lalu, keraguan demi keraguan bertambah besar, tentang—siapa yang benar dan siapa yang salah, "Apa ini kesalahan Ibu? Atau Ayah?" Atau Taehyung juga berpikir, ini mungkin karena kebodohannya.
Tapi, bahkan Taehyung tidak tahu bagaimana awal mulanya kerumitan ini terjadi. Selain narasi yang tertanam sedari kecil bahwa—Ayah berselingkuh dengan Ibu Jimin, lalu Ibu Taehyung yang terluka—berjuang sendiri mempertahankan keutuhan keluarganya.
Sedang perkataan Ayah saat berdebat dengan Ibu, menyiratkan bahwa—Ibu yang menekan Ayah hingga melakukan tindakan yang tidak seharusnya—melukai Jimin dan Ibunya.