Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuatu yang dapat dibayangkan adalah nyata, dan banyak orang bilang, hidup yang dihabiskan untuk membuat banyak kesalahan jauh lebih terhormat daripada hidup yang tidak digunakan untuk melakukan apapun.
Hidup juga hanya sekali. Jika bisa melakukan yang terbaik, maka sekali saja cukup.
Mungkin saja apa yang Taehyung lakukan adalah prinsipnya sekarang. Jika membuat kesalahan dalam hidupnya tidak akan membuatnya mati dengan penyesalan, maka itu yang dia lakukan. Mematahkan seluruh larangan Ayah dan melakukannya sebagai perintah.
Sekali lagi, hidup ini hanya sekali. Hidup adalah kebebasan, setiap yang bernapas memiliki hak atas hidupnya.
Ibaratnya, seseorang harus memiliki kekacauan untuk mendapat banyak bintang, selayaknya galaksi yang bertabrakan untuk menghasilkan planet dan galaksi lain yang lebih bervariasi.
Semua itu butuh keberanian. Keluar dari zona aman butuh lah keberanian yang besar. Bukan hanya nafsu untuk melemparkan diri ke tempat yang membahayakan, melainkan bertanggungjawab untuk apa yang akan terjadi ke depan.
Ini benar-benar gila, rasanya sangat luar biasa mengacaukan perasaannya. Saat siang tadi Jimin menyaksikan bagaimana Taehyung membuat sebuah sambutan besar untuk pertukaran pelajar yang tengah dilakukan.
Seolah membeberkan pancang hidupnya yang penuh kebebasan, petualangan menyenangkan dan caranya mengatasi beban seperti aksi heroik yang membanggakan.
Dan semua yang Taehyung katakan adalah sebuah kebenaran. Dilihat dari hidupnya yang tampak lebih ringan sekarang.
"Orang bodoh bisa bahagia dengan ilusinya, orang pintar bisa bahagia dengan tujuannya. Jadi, bahagia mana yang berumur panjang? Tanyakan itu pada dirimu sendiri."
Ya, Jimin tidak melihat apapun selain kekosongan. Kalau dipikir lagi, jika ia melihat kedalam dirinya sedalam Taehyung berpikir tentang isi hati dan pikirannya sendiri, mungkin Jimin hanya akan menemukan lubang hitam sebagai ruang hampa. Tidak ada apapun selain kekosongan dan kegelapan. Bahkan cahaya tidak dapat menembus saking kental dan legamnya lubang kesunyian yang Jimin punya.
Meskipun ia tidak tahu pasti dimana letak kekosongan dalam dirinya berada.
"Apa menariknya?" Les Demoiselles d'Avignon, Kurang dari satu jam memandang, gambar eksplisit yang selalu Bundanya lihat. Ya, lukisan Pablo Picasso.
"Mungkin maknanya tidak sampai padamu."
"Oh ya?" Netra Jimin tetap tertuju pada layar laptop didepannya, dimana lukisan itu masih terpampang.