Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lily of valey, akan jadi bentuk akhir saat brick-brick kecil itu selesai di susun sesuai instruksi yang tertera di lembar petunjuk. Taehyung sendiri hanya memperhatikan Jimin yang sibuk berkutat dengan brick-bricknya. Ia tidak banyak bicara, atau mengarahkan meskipun terkadang Jimin salah mengambil langkah dalam menyusunnya, tapi Taehyung memilih tetap diam. Membiarkan Jimin asik dengan dunianya sendiri.
Taehyung datang karena tidak ingin pemikiran Jimin selalu bermuara pada hal negatif dan membuat hal fatal jadi kelihatan wajar. Jarak yang membentang membuatnya harus memutar otak agar bisa terlibat dalam satu waktu dengan Jimin. Sebab, meski satu sekolah, Jimin selalu sukses menghindarinya dan Taehyung tidak bisa memaksakan diri sebab takut Jimin merasa tertekan.
Namun, hal ini Taehyung sebut sebagai pendekatan santai yang perlahan, tidak mengedepankan keinginan menggebu-gebu atau rasa egois yang menginginkan Jimin kembali pulang. Taehyung akan bergerak layaknya air yang mengalir tenang dari hulu ke hilir.
Terlebih, Taehyung sangat tidak ingin Ayah mencampuri urusan Jimin lagi. Karena pria itu selalu punya seribu satu cara untuk menekan Jimin agar sesuai keinginannya. Maka dari itu, Taehyung mengalah untuk membiarkan bentangan jarak terjadi diantara mereka.
"Ini tidak sebesar yang kemarin." Karena hanya butuh satu setengah jam untuk Jimin menyelesaikannya. Sementara yang dulu memakan waktu lebih lama. Apalagi yang sekarang bentuknya kecil, hanya seukuran pot bunga hias yang suka mengisi hambalan dinding.
"Iya, edisi terbarunya seperti itu." Taehyung menimpali, tapi atensinya tidak beranjak pergi. Masih bermuara pada presensi Jimin.
Setelah Jimin pergi, setelah hampir seminggu lamanya Taehyung lalui tanpa hadirnya Jimin dirumah. Ia tidak pernah tenang, meski tidak bisa melihat Jimin dua puluh empat jam per-tujuh secara langsung, Taehyung selalu rutin bertukar kabar dengan Dokter Mi-Seon. Kendati solusi itu pun tidak pernah cukup untuk memuaskan keluh hatinya. Hingga akhirnya Taehyung memilih datang sendiri, menemui Jimin tanpa memikirkan resiko penolakan yang akan dihadapinya. Hanya agar bisa memastikan dengan mata kepalanya sendiri tentang kondisi Adiknya, supaya cemas bisa sirnah.
Dan hal itu memang benar-benar terjadi, penolakan Jimin terhadap kedatangannya, meskipun terbilang tidak terlalu agresif. Namun tetap saja, hadirnya Taehyung belum bisa diterima dengan tangan terbuka oleh Jimin. Sampai detik ini.
"Ini, aku kembalikan." Jimin tidak mau menyimpan puzzle bricknya, jadi ia berikan kembali pada pemiliknya. Ia hanya tertarik menyusunnya, tidak untuk menjadi kolektor. Hitung-hitung mengurai runyam yang sempat mengambil akal sehatnya beberapa saat yang lalu.
"Kau saja yang simpan. Ini bisa ditaruh di atas meja belajar, tidak makan tempat seperti yang kemarin." Anggap saja pajangan, supaya suasana meja belajar tidak terlalu ajek.