Keriuhannya

131 15 7
                                        

1544 Kata

°•°•°

Pertanyaan yang selalu melintas saat Jimin punya banyak waktu untuk menerbangkan lamunannya, adalah tentang Bunda dan Ayah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pertanyaan yang selalu melintas saat Jimin punya banyak waktu untuk menerbangkan lamunannya, adalah tentang Bunda dan Ayah.

Jimin melihat, bagaimana kedekatan diantara Dokter Mi-Seon dan Ibunya. Kelihatan sangat harmonis. Kehangatan yang terpancar dari mata Ibu Dokter Mi-Seon, afeksi yang beliau tunjukkan untuk putrinya, sudah memaparkan betapa sayangnya ia terhadap putrinya.

Tidak peduli jika putrinya sudah dewasa, sudah berkeluarga, punya pasangan dan memiliki anak, dimatanya, putrinya tetaplah anak kecil yang masih perlu bimbingan dalam hidupnya.

Sementara jika Jimin melihat dirinya sendiri, kerumpangan memenuhi pandangannya, sanubarinya punya banyak kekosongan, posisi demi posisi yang harusnya jadi penyokong hidupnya, menghilang.

Bunda yang memilih mati, lalu Ayah yang tidak peduli.

Sebetulnya memilih berakhir pun, Jimin rasa tidak masalah. Tidak akan ada yang mau duduk didepan fotonya atau menangisinya.

Siapa yang peduli, tidak ada.

Bahkan kematian Bunda saja, hanya Jimin yang meraung dengan rasa sakit yang begitu besar dihatinya.

Sendirian.

Semakin kesini, semakin menarik sebuah kematian dimatanya. Skema demi skema yang ia rangkai didalam kepalanya, mencontoh dari tindakan Bunda, Jimin sudah lama merancang hal kotor itu dalam benaknya.

Hanya menunggu, ia sanggup merealisasikan dalam bentuk nyata.

'Sekarang pun tidak apa Jimin-ah.'

Netra Jimin terlihat semakin kelam saja. Dalam latar suasana malam yang tidak berbintang, lalu dersik dari pohon ginko yang tergoyangkan angin, lamunan semakin tebal dan mengakar.

Tidak ada yang menghentikan, kala perenungan kian bercabang -cabang.

Menatap telapak tangannya yang memerah. Angin malam mondar-mandir, dan telapak tangan Jimin banjir keringat dingin. Terasa memanas wajahnya saat pening juga ikut bertandang.

"Lalu? Lalu bagaimana nantinya?"

Katakanlah Jimin inginnya tetap menapaki dunia. Ia ingin bersenang-senang seperti kebanyakan orang, punya hobi yang dilakoni, mendengarkan musik funky setiap pagi sambil menunggu dua lembar roti menyembul dari mesin toats.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang