Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bandul jam pendulum bergerak kekiri dan kekanan, dalam hening tidak berujung dihari yang mendekati tengah malam. Terduduknya Jimin diruang tengah tanpa kawan, hanya bertemakan bayangannya melihat kearah jam tua warisan dari orang tua Ayahnya.
Bukankah ini yang Jimin inginkan. Kesunyian dimana tidak adanya presensi Ibu tirinya dan Taehyung. Tidak ada yang menganggunya. Atmosfer disekelilingnya penuh dengan ketenangan dalam lindap senyap keadaan. Tapi Jimin malah merasa semakin berantakan. Saat dirinya tidak mampu mengendalikan arah pemikirannya, setiap sudut rumah jadi menakutkan. Terangnya lampu utama tidak mampu mengusir rasa cemas yang tiba-tiba bertandang.
Taehyung harusnya menelponnya, atau mengirim pesan padanya. Tapi tidak ada satu pun yang menyambangi ponselnya. Tidak ada dering yang memecah kebekuan suasana. Pada akhirnya Taehyung akan lupa, 'Bohong sekali.' Jimin tidak akan percaya lagi ucapan manis Taehyung. Saat kebahagiaan dari hangatnya keluarga di pihak Ibunya menyelimuti sanubarinya, presensi Jimin akan menghilang didalam sana.
Taehyung pasti lupa, atau Jimin yang sekarang mulai menanamkan harapan pada orang yang seharusnya ia perlakukan dengan penuh dendam. Belum ada dua puluh empat jam dari rasa asing yang menyentuh perasaannya, kecewa sudah datang padanya. Jimin sampai berpikir, harapan hanya diciptakan untuk menjatuhkan ekspetasi pada kenyataan yang jauh dari perkiraan. Jimin seharusnya tidak pernah melakukannya, berharap bukan tindakan yang pantas untuknya. Semuanya patah didetik-detik ia percaya kalau hal semacam itu ada.
'Manusia diciptakan sendirian. Hanya orang naif yang berharap mendapat teman.'
'pada dasarnya manusia itu tidak mau rugi. Kalau tidak ada keuntungan yang didapatkan, untuk apa tetap dipertahankan.'
'Jimin-ah, apa kau punya sesuatu seperti itu? Bahkan kau tidak menguntungkan siapapun.'
'Apa yang kau tunggu? Tidak ingin menyusul Bundamu? Kita lihat, apa akan ada yang menangis untukmu. Atau, akan mengenaskan seperti pemakaman Bundamu."