Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menyambar ponsel diatas meja belajarnya, Jimin keluar dari kamar dengan niatan mencari udara segar setelah sedari tadi berjibaku mengulang pelajaran yang ia dapat di sekolah.
Sekilas ia melihat pintu kamar Hyun-Jun yang terbuka, tetapi si pemilik kamar terlihat sedang duduk di sofa ruang tengah. Jadi Jimin melipir untuk menengok kenapa gerangan pintu kamar Hyun-Jun terbuka sangat lebar.
Ia mendekat, kemudian langkahnya berhenti diambang pintu saat netranya mendapati Dokter Mi-Seon yang tengah membongkar isi lemari putranya. Memilah-milah pakaian diatas tempat tidur.
Jimin nyaris memanggil, namun urung saat matanya melihat pergerakan dokter Mi-Seon yang sangat hati-hati, seolah setiap lipatan kain punya kisah yang berarti—semacam kenangan tersendiri.
Matanya juga melihat Dokter Mi-Seon yang memisahkan sweater biru tua setelah sebelumnya memberi tatapan penuh keraguan. Ada senyum kecil yang menggantung disudut bibir wanita itu— senyum khas orang yang sedang mengenang.
Jimin berniat mundur— merasa takut menganggu momen yang tengah Dokter Mi-Seon nikmati. Namun belum sempat satu langkah pun terlaksana, ternyata kehadirannya sudah disadari lebih dulu.
"Jimin-ah." Ujar Dokter Mi-Seon dengan suara yang tidak pernah kehilangan kehangatan, "Sejak kapan berdiri disitu? Sini masuk."
Tersenyum canggung, Jimin melangkah masuk pelan-pelan seperti seseorang yang penuh keraguan dan perasaan tidak enak karena sudah menganggu waktu yang seharusnya khidmat.
"Duduk disini." Tangan Dokter Mi-Seon menepuk sisi tempat tidur disebelah tumpukan pakaian, "Hyun-Jun tumbuh sangat cepat, tidak terasa banyak pakaiannya yang sudah kekecilan. Aku sedang memilih baju yang tidak muat lagi untuk disumbangkan ke panti besok."
Jimin mengangguk paham, ujung matanya menyapu tumpukan pakaian yang terlipat rapi. Beberapa diantaranya masih terlihat sangat baru, dan yang lainnya tampak masih bagus. Pakaian yang terawat dengan keresikan tingkat tinggi. Bahkan Jimin bisa mencium aroma detergen yang lembut.
"Pakaian Jun lucu-lucu." Gumam Jimin, menunjuk pada kemeja dengan kerah sailor.
Dokter Mi-Seon mengangguk sambil tersenyum, "Dulu itu baju kesukaannya waktu masih TK."
"Bibi sering melakukan hal ini?" Pakaian Hyun-Jun terlihat sangat lembut, membuat Jimin tertarik untuk menyentuhnya, "Menyumbangkan pakaian ke panti."
Untuk pertanyaan itu, Dokter Mi-Seon memberikan anggukan sebagai jawaban, "Dulu Bibi yang mengantarkan semua pakaian ini ke panti, tapi kali ini Bibi akan memberikannya ke sekolah Jun."
"Ke sekolah?" Alis Jimin mengerut, bingung.
"Iya, Sekolah Jun akan melakukan kegiatan kunjungan amal ke panti asuhan besok." Jelas Dokter Mi-Seon sambil melipat kemeja berwarna biru pastel.