Kegiatannya

119 15 2
                                        

1854 Kata

°•°•°

Berhitung mundur dari angka dua puluh ke angka satu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berhitung mundur dari angka dua puluh ke angka satu. Siapa yang paling excited, tentulah Hyun-Jun.

Bagi orang dewasa lampu merah itu menjenuhkan, menunggu adalah bagian paling menjengkelkan, terlebih orang dewasa punya banyak urusan yang berpacu dengan kesempatan dan waktu. Sementara anak kecil tidak memikirkan hal itu, sesuatu yang menurutnya menarik akan membuatnya senang, tidak peduli dengan apapun yang terjadi nantinya.

Contohnya yang sekarang Hyun-Jun lakukan, menunggu lampu merah dengan penuh semangat. Tidak peduli jikalau mereka akan terjebak macet karena menumpuknya kendaraan, atau bisingnya klakson orang-orang tidak sabar.

Karena menurut Hyun-Jun, menunggu pergantian lampu merah ke hijau itu kegiatan yang menyenangkan.

"Hari ini menu makan siang di sekolah apa Jimin-ah?" Mengetuk-ngetuk jari pada permukaan kemudi. Bagi Dokter Mi-Seon, ini sudah cukup lama untuk mempertahankan rasa sabarnya.

Kebisingan lalu lintas yang terdengar sayup-sayup cukup mengganggu suasana. Jadi ia mulai membangun pembicaraan, agar waktu tidak terasa diam saja.

"Um, udon seafood, Kimchi, salad nugget, nasi." Kira-kira begitu menu yang Jimin lihat dari meja sebelahnya saat di kantin siang tadi. Karena Jimin tidak benar-benar makan, ia hanya mengambil salad nugget, supaya waktu yang harus ia habiskan dikantin tidak begitu banyak.

"Empat sehat lima sempurna, bagus bagus." Melirik sekilas kearah timer lampu merah, sekarang baru diangka sepuluh, "Pokoknya jangan melewatkan makan siang. Kalau menunya tidak sesuai selera, kau bisa makan roti saja. Nanti Bibi bawakan ditasmu, intinya tidak boleh membiarkan perutmu kosong."

Dilirik lagi, sudah angka lima, "Kebiasaan burukmu itu harus segera diatasi, Jim. Masalah lambung bukan hal sepele."

"Tiga!" Dari bangku belakang, Hyun-Jun berteriak. Kemudian anak itu berdiri diantara kursi kemudi dan kursi yang Jimin duduki, "Dua." Antusias melihat kearah timer lampu merah, "Satu, Go!" Si paling happy menggebu-gebu.

Dasarnya Dokter Mi-Seon sudah tidak sabar. Tanpa menunggu lagi, langsung menjalankan mobilnya, berbelok kearah kiri, "Oh iya Jimin-ah, kau masih alergi stoberi? Bibi mau memastikan, takut nanti salah memberimu makanan."

Jimin mengangguk, tangannya sibuk menyingkirkan tangan Hyun-Jun yang asik bermain-main dengan rambutnya.

Sejak seminggu lamanya Jimin satu atap dengan bocah itu, ada saja tingkahnya. Tapi yang paling konsisten, ya soal rambut. Entah daya tarik apa yang rambut Jimin punya, tapi yang pasti anak itu hobi sekali memilin-milin berhelai-helai rambut Jimin.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang