Lekuk tentangnya

112 11 6
                                        

2593 Kata

°•°•°

Raw text, lot of typo.

Map biru tua, bersanding dengan map kuning yang berisi laporan medis Milik Jimin, di atas meja—dihadapan Min-Seok—Ayah Jimin dan Taehyung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Map biru tua, bersanding dengan map kuning yang berisi laporan medis Milik Jimin, di atas meja—dihadapan Min-Seok—Ayah Jimin dan Taehyung.

Sekilas Dokter Mi-Seon melirik, ingin tahu kiranya reaksi apa yang pria itu berikan. Namun ternyata, Ayah dari dua anak itu tampak biasa saja. Tidak ada raut penasaran, apalagi cemas dengan apa yang tertera diatas kertas dalam map-map tersebut.

Benar-benar minim empati. Khususnya untuk Jimin. Karena Dokter Mi-Seon sendiri tahu, sikap tidak seimbang yang pria itu lakukan terhadap kedua anaknya—lebih rumpang kearah Jimin, dan sempurna untuk Taehyung.

Taehyung sendiri pernah mengatakan itu hal padanya, dan sikap yang dilihatnya pada Min-Seok sangat singkron dengan apa yang Taehyung tuturkan—miring semiring-miringnya.

Hal itu juga yang mendasari rasa curiganya pada Min-Seok, terkait zat stimulan yang ada pada darah Jimin. Karena sebagai Dokter ia yakin, tekanan gila-gilaan yang Min-Seok berikan pada Jimin, mendorong anak itu untuk menghalalkan segala cara agar bisa memenuhi desakan yang jatuh padanya—hingga salah langkah.

"Ini dua berkas milik Jimin. Satu catatan observasi psikologis, dan satu lagi laporan medis."

Dokter Mi-Seon berucap tegas dan tetap mempertahankan ketenangan.

"Aku sudah terlalu lama bersabar, atas sikapmu Min-Seok-ssi. Sekarang aku minta perhatianmu dengan sangat, dan dengarkan baik-baik." Mulai membangun pembicaraan serius diantara mereka, "Anakmu hampir kehilangan nyawanya malam ini."

Bertaut datar, tipis sekali kepedulian di raut Min-Seok. Sangat yakin, status Ayah dalam diri pria itu satu-satunya alasan dirinya mau melibatkan diri dalam satu konversasi dengan Dokter Mi-Seon—dalam artian, terpaksa sebab perannya.

"Ini sangat serius, Min-Seok-ssi." Geram sekali Dokter Mi-Seon melihat acuh lawan bicaranya.

Sedang Min-Seok masih enggan bersuara. Ia hanya mengulurkan tangannya, seolah mempersilahkan Dokter Mi-Seon untuk lanjut bicara, tanpa perlu mempedulikan responnya.

Pertama-tama, Dokter Mi-Seon membuka map biru lebih dulu, "Dalam sesi-sesi sebelumnya, aku mencatat sejumlah kecenderungan depresi. Jimin menunjukkan tanda-tanda kecemasan akut, insomnia, isolasi sosial, dan dorongan untuk menyakiti diri sendiri, itu yang paling mengkhawatirkan."

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang