Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Diluar, langit begitu cerah, berangin, cocok buat main layang-layang bersama teman-teman. Tetapi di dalam rumah, Jimin hanya mampu melihat keceriaan anak sebayanya dari balik selasar rumah.
"Bunda tidak mengizinkannya keluar", itu yang tertanam dalam kepala Jimin.
Jadi selangkah pun ia tidak berani mendekati pintu, apalagi melarikan diri untuk mengejar kesenangannya.
Tidak berani, sama sekali tidak.
"Wah, sedikit lagi putus layangannya." Seru Jimin, pelan. Tidak ada siapapun yang dengar, hanya angin lewat menyapu suaranya.
Piyama motif hipponya sedikit tipis, jadi kadang tiap hembusan angin mampu menyusup masuk hingga menyentuh kulit. Tetapi ia tetap disana—duduk di pojok balkon unitnya, meski kadang menggigil kecil karena hawa dingin yang datang.
"Ah, harusnya dibelokkan kesana biar tidak putus layangannya." Keluhnya, Kali ini bernada jengkel, "harusnya seperti Kakak yang itu."
Manyun sudah bibirnya, menunjukan seberapa besar rasa kecewanya—kekecewaan yang polos dan tulus, khas anak umur lima tahun yang menganggap pertandingan layangan sebagai urusan paling penting di tengah hari.
Lalu tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka, membuyarkan fokus Jimin sebagai penonton layangan. Ia menoleh, dan mendapati Bundanya yang tengah berjalan memasuki dapur. Membuatnya buru-buru bangkit dari duduknya, berlari menghampiri Bundanya.
"Bunda~"
Jimin lihat, mata Bunda tampak merah, terlihat lelah.
"Bunda?" Gumamnya, begitu kecil, ragu-ragu takut menganggu. Urung sudah niatnya untuk membujuk Bunda supaya ia bisa main layang-layang di luar.
Meski demikian, Bunda tidak sedikitpun memberi reaksi, sekecil berdeham sekalipun—tetap sibuk menuang air ke dalam gelas dan meneguknya seperti orang yang berhari-hari tidak menemukan air—tampak dahaga sekali.
"Bunda." Jemari Jimin, menarik-narik ujung kemeja orang dewasa di hadapannya, meminta sedikit saja perhatian untuknya, "Bunda sakit ya?"
Untungnya, kali ini Bunda merespon, dengan menunduk memberikan tatapan pada anak semata wayangnya—dan untuk sejenak, sorot matanya melembut, tidak tampak kosong melompong seperti sebelumnya. Berusaha mematri senyum di wajah, meski sudut bibirnya sedikit gemetar.