Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara langkah cepat dan berat menghantam lantai, nyaris seperti gemuruh yang tidak tertahankan. Dengan kasar Taehyung membuka pintu kamar mandi, hingga daun pintu itu membentur dinding—hampir memantul kembali.
Pendek-pendek napasnya—terengah-engah. Jemarinya gemetar saat meraih sisi cekung dari kabinet kecil bercermin diatas wastafel. Sampai tangannya sempat terpeleset saat mencoba menggeser pintu kabinet itu, menimbulkan bunyi denting dari botol-botol kecil yang berguncang di dalamnya.
Kepanikan membuatnya seperti kehilangan kendali atas logikanya sendiri. Pandangannya menyapu jajaran botol-botol kecil, membaca label sambil melawan penglihatan yang mulai mengabur karena napas yang semakin tidak beraturan.
Hingga akhirnya, menemukan botol yang ia butuhkan—botol kecil dengan label yang tidak asing baginya. Dan tanpa membuang waktu lebih lama, tergesa-gesa ia membuka tutupnya, menumpahkan satu butir ke telapak tangan, lalu menyalakan keran—menggunakan airnya untuk membantu mendorong masuk obatnya—tanpa berpikir dua kali.
Bahkan nyaris tersedak, karena terlalu terburu-buru.
Setelahnya, tangannya tetap menggenggam pinggiran wastafel erat-erat. Tubuhnya membungkuk, menahan sesuatu yang menyesakkan dada. Sedang pandangan matanya menatap lurus ke cermin yang mempertontonkan refleksi dirinya—kusut, pucat, berantakan, sisa dari usahanya yang mencoba bertahan ditengah reruntuhan napasnya.
"Aku hanya menjelaskan kenyataan soal Ibunya yang mati sia-sia itu. Supaya dia tidak terus berpikir Ibunya itu sebaik yang dia kira. Apa salahnya?! Dia harus tahu."
"Ya Tuhan, Dia baru delapan tahun Min-Seok! Apa kau gila, huh?!"
Suara teriakan Ayah dan sahutan yang tidak kalah kencang dari Ibu terdengar seolah membelah udara—tajam dan menggelegar.
Nada bicara Ibu, syarat akan rasa frustasi, sedang Ayah tidak berkurang sedikit pun bentakannya. Membuat setiap dinding seakan ikut menegang.
Begitu pula tubuh kecil Taehyung. Ia berdiri terpaku ia hadapan pintu yang tertutup. Lalu refleks menoleh kearah Jimin.
Adiknya yang tengah duduk di karpet lantai, tampak tergesa-gesa memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya yang pucat. Tubuhnya tampak mengecil dalam pakaian rumah yang kebesaran. Memang tidak terdengar isakkan, tetapi bahunya terlihat berguncang pelan—seolah suara pertengkaran itu menelusup masuk ke setiap tulangnya.
Membuat Taehyung kontan menghampiri, menarik selimut dari atas tempat tidur dan menyampirkannya ke badan Jimin. Kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Adiknya. Perlahan tangannya bergerak meraih kepala Jimin, lalu menyandarkannya ke bahu.