Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Orang lain yang hanya sakadar melihat mungkin akan berpikir Jimin berlebihan. Sebagai seorang anak yang memiliki ketakutan terhadap orang tuanya sendiri, diluar sana mungkin akan ada banyak orang yang menaruh sentimen miring padanya dengan cap anak durhaka, tidak tahu diri, atau mungkin tidak tahu terimakasih.
Karena disaat anak-anak lain menghormati orang tuanya, Jimin justru menghindari presensi itu dan memilih menuruti rasa takut yang bersarang dihatinya.
Apapun yang bersangkut paut dengan Ayah selalu berhasil memancing kegelisahan datang, membuatnya berdegup kencang dalam kegugupan yang mengerikan.
Bahkan sampai sekarang tangannya masih dibasahi keringat, sedikit gemetar, dan ia merasa belum leluasa menarik napasnya. Seperti dihimpit, dalam ruang yang sempit.
Panggilan ponsel selama lima menit dua detik yang jadi pemicunya. Suara tegas Ayah mematik ketegangan, membuyarkan ketenangan. Setiap ucapan Ayah bisa menancap dengan mudah didalam sanubari Jimin, berputar-putar didalam kepalanya, terngiang-ngiang menganggu pendengarannya, 'Ayah mengawasimu, Jimin. Jadi jangan macam-macam, tetap fokus belajar. Orang bodoh itu menyusahkan.'
Kata demi kata yang keluar dari mulut Ayah, bertabrakan sana-sini dengan simpulan pesimis yang ikut wara-wiri, membaur bagai badai yang mengamuk didalam diri.
Alhasil fokusnya tidak mau merapat. Kebingungan mencuat, bersamaan dengan perasaan yang berubah rancu, tidak tenang pada hal yang tidak jelas. Intinya Jimin merasa kalau dirinya ada dalam masalah, mengundang was-was tak beralasan datang. Benar-benar tidak nyaman. Seolah dirinya ada dalam posisi terancam, disudutkan dalam satu sudut ruang gelap tanpa pertolongan, dan sendirian.
Sementara buku-buku pelajarannya masih belum tersentuh semua, "Bagaimana ini, tugasnya masih banyak." Sedang jarum pendek jam mulai mendekati angka sepuluh. Dimana Jimin harus tidur kalau tidak mau mendapat ocehan Dokter Mi-Seon.
Pendisiplinan jam istirahat yang seharusnya membuat Jimin bisa memperbaiki pola tidak sehat hidupnya, justru membuatnya tertekan sebab bersinggungan dengan peraturan Ayah yang mengikat sebelumnya. Kata Dokter Mi-Seon, istirahat itu penting sebagai kebutuhan manusia tapi Ayah bilang, istirahat untuk orang bodoh itu hanya membuang masa, waktu adalah kesempatan, dan kesempatan tidak akan datang dua kali.
Dua pendapat yang membuat Jimin berusaha bersikap seimbang, antara waktu belajarnya dan istirahatnya. Intinya ia tidak mau merepotkan Dokter Mi-Seon dan tidak pula mengecewakan Ayahnya. Jadi Jimin berusaha untuk belajar lebih keras dan selesai tepat waktu.
Namun masalahnya, sampai kini ia tidak bisa berkonsentrasi. Selalu ada yang mendistrak pikirannya, entah itu asumsi negatif, atau suara-suara yang mencela, yang menyerupai suara Ayah.