Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada yang bilang, Jika hidup terasa berat, sempit dan gelap, cobalah sesekali keluar, jalan-jalan sejenak—kadang apa yang terasa membebani justru impian bagi orang lain.
Jimin memang mengeluhkan hidupnya, tetapi agaknya punya Ayah yang pedas-pedas sepat lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Itu kenapa sampai saat ini Jimin tidak pernah berani menendang figur Ayah dalam hidupnya meski luar biasa sakit hatinya.
Melihat anak-anak panti yang tidak sama sekali memiliki sosok orang tua, membuat Jimin bisa sejenak memaklumi sikap Ayah yang sadis tidak kira-kira.
"Kak Jimin, tolong." Jimin yang tengah santai duduk bersila dibawah pohon rindang dibuat menoleh sebab Hyun-jun yang tiba-tiba datang, "Ini, Jun tidak bisa bukanya." Sambil memberikan sebungkus camilan.
Sempat mendengus kecil, tapi Jimin tetap menerima bungkus camilan yang sudah kusut, "Kau buka ini pakai gigi ya tadi?" Sedikit basah pula ujungnya.
Hyun-Jun hanya memberikan cengiran konyolnya.
'Dasar Bocah.' dengan cekatan Jimin membuka bungkus plastik itu lalu memberikannya kembali pada Hyun-Jun, "Mau makan ini dimana?"
"Disana, sama teman-teman." Menunjuk kearah dimana ada banyak anak-anak lain bercengkrama diatas karpet piknik.
"Jangan jauh-jauh, nanti kau hilang." Raut wajah Jimin memang tidak ramah anak-anak, seperti air tanpa rasa sedikit pun.
Tetapi Hyun-jun sudah sangat terbiasa. Jadi ia hanya mengangguk kemudian berlari pada tujuannya— sekumpulan kawan-kawan.
Jimin hanya mengamati dari jauh Hyun-Jun yang larut diantara tawa anak-anak lain. Suara mereka melengking-lengking ceria, menggema menjadi sesuatu yang menghangatkan suasana. Disudut bibir, Jimin tersenyum kecil, sangat kecil sampai hampir tidak kelihatan jika tidak diperhatikan secara detail.
Ia jadi berpikir, bagaimana mereka—para anak-anak panti asuhan tersenyum begitu tulus ditengah kerumpangan hidup yang mereka miliki. Sedang Jimin yang ditinggal Bunda dan diabaikan Ayah saja sudah sekarat sampai warasnya hampir pecat. Apa mungkin karena mereka sudah terbiasa?
Oh, tiba-tiba Taehyung dengan sikap biasa-biasa saja di hari peringatan kematian Neneknya—terlintas dalam benak Jimin. Apa karena sudah terlalu lama bertarung dengan rasa kehilangan membuat perasaan itu tidak sekuat saat awal-awal terasa?
Tetapi kenapa Jimin masih belum terbiasa, padahal ia lebih dulu kehilangan Bunda daripada Taehyung kehilangan Neneknya.
Jimin menarik napas panjang, bergelut dengan hal simentil memang selalu melelahkan.