Interlokusinya

52 8 2
                                        

1074 Kata

°•°•°

Oxsimeter yang berkedip dibawah angka normal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Oxsimeter yang berkedip dibawah angka normal. Napas pendek tersengal, dengan suara seperti tercekik. Bekas kemerahan samar disekitar hidung dan mulut—hipoksia akut.

Dokter Mi-Seon tidak akan pernah lupa bagaimana kacaunya ruang rawat Ayah dari Taehyung dan Jimin—Kim Min-Seok.

Meski kini, keadaan darurat itu sudah terlewati. Kondisi dari pria dua anak itu kembali stabil, setelah mendapat penanganan cepat yang mempuni dan akurat.

Sekarang, yang Dokter Mi-Seon hadapi adalah perangai dari Ji-won—Ibunya Taehyung. Yang tengah duduk didepannya, menatap lurus dengan binar gemetar—cemas yang kentara.

"Hanya lima belas menit, Dokter Im. Tidak lebih." Suara milik petugas keamanan terdengar, memecah keterdiaman antara Dokter Mi-Seon dan Ibu Taehyung. Berupa peringatan batas waktu.

Dan untuk itu Dokter Mi-Seon hanya mengangguk. Lalu tangannya bergerak menunjukan gestur meminta ruang secara personal kepada petugas keamanan yang bertanggung jawab.

Hingga akhirnya para pria berseragam itu mundur, memilih berjaga didekat pintu, siap bergerak cepat jika ada keadaan darurat.

"Ji-won-ssi." Dan Dokter Mi-Seon lah yang memulai pembicaraan, dengan panggilan yang keluar pelan—hampir seperti bisikan, "Aku tidak akan menghakimi mu, tapi aku perlu mengerti apa yang mendorongmu melakukan itu."

Ketegangan masih terlihat, lewat pias wajah Ibu Taehyung. Jemarinya saling menggenggam erat diatas pangkuan, buku-buku jari memucat.

Dan Ibu, belum mau mengatakan apapun. Selain memberi tatapan ambigu yang pelik.

Membuat Dokter Mi-Seon menahan kecepatan intervensinya, membiarkan hening berputar disekitar mereka. Tidak tergesa mengisi ruang dengan kata, tetapi melepaskan rasa aman agar Ibu Taehyung bisa menenangkan hatinya.

Hingga persekian detik berlalu, keadaan masih tetap sama—Ibu Taehyung yang duduk kaku, terguncang, membeku—dan meski bibirnya sedikit terbuka, tidak ada satu pun kata yang lolos dari sana.

Tidak adanya kemajuan konversasi, ditambah suara ketukan arloji yang melingkar di pergelangan tangan—seolah mengingatkan waktu lima belas menit yang terus menyusut.

"Ji-won-ssi?" Terdengar kembali suara Dokter Mi-Seon, masih satu-satunya yang mengudara sebagai dorongan halus pemecah kebekuan.

Mata Ibu Taehyung bergerak sedikit, terkesan seperti baru saja benar-benar hadir—secara nyata, jiwanya. Tautan jemarinya semakin erat menggenggam, kuku menekan kulit hingga nyaris membekas.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang