Kekalutannya

189 24 21
                                        

735 Kata

°•°•°

Keramaian yang terlihat begitu menyenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keramaian yang terlihat begitu menyenangkan. Semua orang punya orang lain disamping mereka. Senyum yang indah-indah dalam ragam cara yang mereka punya.

Dimata Jimin itu kelihatan keren. Dan beberapa Minggu belakangan, Jimin merasakan hal yang sama.

Kedengaran begitu gila, tapi Jimin merasa ringan disaat yang bersamaan. Aneh mungkin, tapi Jimin benar-benar mengalami suasana yang memiliki sensasi berbeda. Jimin merasa dirinya terdorong pada satu sisi yang belum pernah Jimin pijaki.

'Kau tahu bayangan? Itu kelihatan tidak nyata, tapi Kakak bisa melihat mereka begitu hitam dibawah kaki saat matahari berdiri disudutnya.'

'kita yang tahu diri kita sendiri. Orang lain tidak akan membantu apapun.'

Benar, bayangan itu ada dibawah kakinya. Bayangannya sendiri. Mengarah ke timur.

'Obat terbaik itu datangnya dari diri sendiri. Aku tidak tahu sedalam apa yang Kak Jimin alami. Tapi mata Kak Jimin tidak bisa berbohong. Mereka kelihatan tidak hidup.'

Refleksi yang Jimin lihat disetiap paginya. Selalu tersangkut pada ucapan Yoo-Jin tempo hari. Saat remaja aneh itu memasuki kamar Jimin tanpa izin, dengan alasan mengantar sepiring makanan untuk Jimin sarapan. Berakhir dengan konversi dalam yang tidak Jimin rencanakan.

Tapi Yoo-Jin begitu mahir menggiring pembicaraan. Meski tidak banyak yang Jimin katakan, tetapi orang yang lebih muda darinya itu bicara dengan tepat sasaran. Jimin sempat berpikir apa dia begitu mudah terbaca, tapi ternyata Yoo-Jin pernah ada dalam lingkaran yang sama.

Perasaan absolute yang tidak bisa diungkapkan pakai kata. Kekacauan yang membuat Jimin merasa hidupnya jauh dari kata normal. Yoo-Jin pernah ada disituasi yang sama.

"Adikku juga memakainya. Dia punya kebiasaan yang sama sepertimu."  Jimin memandang cincin di telunjuknya. Benda yang hanya Jimin lepas saat mandi. Beom-Jin pernah mengatakan hal itu, dulu saat memberikan cincin itu pada Jimin.

'Sulit bukan berarti tidak bisa, Kak. Gelap tidak selamanya menakutkan, hitam tidak selamanya buruk.'

'Kalau Kak Jimin mau berdamai. Selalu ada hal indah dibelakang mereka.'

Begitu ringan Yoo-Jin mengatakannya. Begitu lancar memasuki pendengaran Jimin. Licin meluncur kedalam sanubari. Tapi sulit Jimin kenyam. Setiap menyenggol perihal perasaan, apapun yang pernah Jimin alami akan muncul kepermukaan. Bahkan sesuatu yang berusaha keras Jimin lupakan, akan timbul kembali tanpa kehilangan bagian, sekecil apapun.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang