Wahamnya

99 16 8
                                        

1276 Kata

°•°•°

Matahari tidak akan selamanya bersinar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari tidak akan selamanya bersinar. Saat malam datang, tentulah benda langit itu akan tenggelam, berganti dengan bulan. Sebuah pergantian yang alami—disertai dengan pejamnya sebagian makhluk bumi, tunduk pada ritme semesta.

Jimin juga termasuk kedalam sebagian makhluk bumi, yang tidak terlelap. Bukan karena tinggal di belahan bumi yang masih siang, melainkan karena matanya sulit terpejam. Begini kira-kira ungkapannya: Jimin ingin tidur tetapi tidur tidak Ingin Jimin.

Hingga kesunyian hanya berteman suara detik-detik jam, netra Jimin masih setia terbuka. Memandang langit-langit kamarnya yang penuh gambar-gambar awan.

"Taehyung akan ikut tanding lagi katanya."

"benarkah? Kapan?"

"bulan depan, setelah ujian selesai."

"kukira Taehyung cuma sedang bosan saja, ternyata dia tidak main-main. Kenapa baru-baru ini ya? Padahal sebentar lagi lulus, kenapa harus repot-repot ambil resiko."

Selain hal-hal rancu yang menari-nari dalam pikiran Jimin. Percakapan selewatan yang ia dengar disekolah siang tadi, juga ikut menghantui. Obrolan yang tanpa sengaja menyusup, lalu menyulut sekumpulan tanya—tentang, apa sebenarnya yang sedang Taehyung lakukan saat ini.

Semuanya berpusat pada perangai Ayah, yang membuat Jimin penasaran. Kiranya Ayah bersikap seperti apa hingga Taehyung bisa mengambil pertandingan selanjutnya.

Jimin sempat menduga—menurut perkiraannya, Ayah pasti akan marah besar dengan tindakan Taehyung, secara Ayah itu dikenal sangat tegas dengan keputusannya, dan keras dalam keinginannya. Tentulah tidak mudah menerima penyimpangan semacam itu.

Tetapi yang Jimin lihat justru sebaliknya, Taehyung tampak tidak tergoyahkan sedikit pun. Ia terlihat tenang, nyaris santai, seolah semuanya mengalir begitu saja—tanpa hambatan, tekanan, desakan. Seperti hidupnya baik-baik saja, tanpa ada yang perlu ditakuti.

'Jadi ternyata benar, hanya anak kesayangan yang mampu meluluhkan kerasnya hati seorang Ayah.' Jimin pernah dengar ungkapan itu dari banyak orang.

Ibaratnya, Taehyung adalah kapak yang meluncur cepat—membelah batu tanpa kesulitan. Sedang Jimin hanyalah tetesan air—yang terus berjuang, perlahan melubangi kerasnya batu yang sama, berharap suatu saat bisa luluh oleh waktu.

"Ibuku bilang, hampir setiap malam Ibumu menjelma jadi alat tukar. Menukar kasih sayang hampa demi bertahan hidup."

Kemudian ucapan Hyeon-Gi yang juga ikut berbaur—lalu-lalang dalam pikiran, menyusup perlahan dan kemudian mendekam di sudut-sudut sunyi. Mengaitkan kewarasan dan menariknya perlahan. Bergerak mulai rancu, dan kian brutal—seperti benih kegilaan yang tidak tahu diri.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang