Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mata Jimin bergerak, pada sekelilingnya. Dimana anggota keluarganya berdiri dengan raut yang bermacam-macam maknanya.
Taehyung yang tampak cemas, Ibu tirinya yang terlihat seperti orang khawatir, lalu Ayah yang tidak terbaca. Ditambah satu lagi, Dokter Mi-Seon juga ada. Wanita itu datang sebab Ayah yang memintanya, bersangkutan dengan keperluan yang ingin Ayah sampaikan. Dan Jimin tahu apa itu.
Ayah sudah mengatakan niatnya, yang secara tidak langsung ingin Jimin tidak lagi menapaki kakinya dirumah atau berkeliaran didalamnya. Pengusiran yang halus, Jimin berpikir Ayahnya sudah sangat muak. Lantas ia juga berpikir semakin jauh, saat Ayah yang hanya sesekali ada dirumah sebab tuntutan pekerjaan saja jengah dengan Jimin, lantas bagaimana yang lain. Setiap harinya harus menghadapi pribadinya yang kompleks.
Terkadang Jimin tidak peduli pada, bagaimana orang lain berpikir tentangnya. Tapi disatu sisi, perkataan Ayah membuat Jimin merasa dirinya benar-benar sebuah kesalahan yang bernapas l, bermuara, dan hidup didunia.
Dilihat-lihat lagi wajah Taehyung dan Ibunya, mereka adalah bagian dari hidup Ayah, yang sangat Ayah sayangi, diakui, dan diperlakukan layaknya orang paling important dalam semesta milik Ayah. Lantas ia melihat kedalam dirinya, tidak ada apapun bagian yang bisa dijadikan sebuah alasan untuk Ayah mempertahankannya. Terkadang juga Jimin berpikir, mungkin ia hasil dari hubungan diluar pernikahan yang secara otomatis selama ini Ayah menampung aibnya sendiri didalam rumah.
'Kau yang harus menjaga ucapanmu. Atas dasar apa kau meragukan putramu sendiri. Jimin anakmu Min-Seok. Dia darah dagingmu!'
'Bagimana aku bisa yakin kalau puluhan laki-laki sudah pernah menidurimu!'
Percekcokan antara bunda dan Ayah dahulu, tertanam terlalu dalam. Terlalu membekas, dan tidak bisa dilupakan. Selama ini, melahirkan banyak persepsi miring. Mulai dari dugaan sampai beberapa yang Jimin yakini sebagai alasan dari sikap Ayah yang tidak seimbang padanya.
"Jimin-ah?" Itu suara Taehyung.
Tapi tatapan Jimin lebih tertuju pada Ayahnya, "Aku harus berangkat sekarang, Yah?"
Kalau memang iya, Jimin ingin cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar. Ia tidak akan berniat kembali meskipun warasnya bisa diperbaiki.
Tapi mungkin Taehyung tidak paham, apa yang Jimin bicarakan. Sebab ini hanya diantara Ayah dan Jimin, atau mungkin Dokter Mi-Seon, tapi dokter itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Seolah memang Ayah belum sempat menyampaikan iktikad mengerikannya.