Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada keheningan yang tidak biasa. Dari seluruh penjuru rumah, selalunya hanya kamar Jimin yang lindap senyap bagai tidak ada kehidupan. Tapi kini, suasana yang terkesan redup seolah menyelimuti setiap sudut.
Tidak ada Taehyung, tidak ada yang mengguncang tempat tidurnya. Tidak ada yang membuka tirai jendela kamarnya. Jimin bangun di jam delapan pagi, disambut sepi. Sangat aneh, tapi tidak ada penjelasan yang bisa menjabarkan kenapa situasi se-asing ini bisa terjadi.
'Tapi setidaknya pagi ini lebih tenang.' Jimin menyebutnya kondusif. Situasi dimana Taehyung tidak muncul diawal, dan mengacaukan sepanjang harinya dengan memicu kurva mood swing yang berantakan.
Secara gamblang Jimin katakan, melihat senyum Taehyung itu seperti melihat timah panas yang siap menyerangnya. Alih-alih cahaya mentari yang menyinari bumi, sikap cerah dan bersinar milik Taehyung adalah luka buat Jimin. Pikirannya terus mengerucut pada hal pelik yang dienyamnya sejak kecil. Katakanlah menari-nari diatas penderitaan orang lain.
Dimata Jimin, Taehyung melakukan hal semenjijikan itu.
Taehyung tertawa, Jimin merasa ditertawakan. Taehyung tersenyum, Jimin merasa diremehkan. Taehyung menatapnya, Jimin merasa dipermalukan. Tidak ada yang benar, yang Taehyung lakukan. Bagi Jimin semuanya menyiksa.
Jika Bunda masih ada, mungkin Jimin akan merencanakan hal gila semacam balas dendam yang sepadan dengan tangisan yang selalu Bunda tunjukan. Support sistem yang ampuh untuk membuat Jimin siap melakukan tindakan mendekati kriminalitas sekalipun. Tapi nyatanya, presensi itu tidak ada. Jimin lebih berniat merencanakan kematiannya daripada menciptakan penderitaan untuk keluarga baru Ayahnya.
Balas dendam jadi kelihatan melelahkan, sementara dirinya tetap tidak bisa menumpahkan kerinduan pada Bunda. Apalah arti menghajar Ayahnya.
'Buktikan kalau Jimin anak Bunda yang paling hebat. Buat Ayahmu menyesal sudah membuangmu.' ini hal yang paling gila. Disamping niat Jimin yang sudah matang untuk membuang kehidupannya. Ia terus diingatkan dengan perkataan Bunda yang membuatnya terjebak dalam lingkaran setan ekspetasi Ayah. Dan Jimin berusaha untuk itu, hingga melakukan mendorong langkahnya melampaui batas kemampuannya.
Tapi Ayah tidak menyesal, justru semakin menekan Jimin untuk berlari lebih kencang dan lebih jauh lagi. Tidak puas, tidak peduli, meskipun Jimin sudah jatuh bangun untuk memenuhi standar sempurna menurut Ayah.
Sekarang Jimin merasa, mati atau tetap hidup akan sama saja, tetap menyiksanya.
"Ish!" Jimin memukul komponen brick yang agak susah terpasang. Kira-kira sudah 30% perjalanan, dan bagi Jimin masih belum tampak seperti yang ada digambar. Mungkin sebab yang Jimin kerjakan masih komponen kaki, belum sampai badannya.