Insidennya

82 9 0
                                        

3708 Kata

°•°•°

Jaman sekarang adalah era digital, kemudahan bisa didapatkan dimana-mana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jaman sekarang adalah era digital, kemudahan bisa didapatkan dimana-mana. Segala hal terasa hanya memiliki jarak sepanjang buku jari—belanja, belajar, bahkan mungkin berkerja—tergantung profesi.

Tetapi Jimin, harus direpotkan oleh secarik kertas yang diberikan guru lesnya. Kertas yang isinya alamat dari sebuah toko buku.

Padahal tinggal share lock saja. Repot sekali, serasa tinggal di jaman dimana ponsel pintar belum ditemukan.

Untuk kesekian kalinya Jimin menatap kertas kecil yang ia pegang. Mengernyit alisnya saat mencoba mencocokkan nama jalan dengan papan penunjuk yang berdiri menjulang di persimpangan jalan.

Mana langit kelihatan tidak bersahabat—mendung, udara lembab makin terasa.

Mata Jimin menyapu sekelilingnya, dari kanan ke kiri lalu sebaliknya lagi.  Semua bangunan, tampak sama dimatanya.  Bangunan-bangunan itu berdiri berdempetan, tanpa petunjuk yang jelas.

"Dimana sebenarnya toko bukunya?" Gerutu Jimin, dengan kedua alis yang semakin mengkerut saja.

Ditambah pula tidak ada satu pun manusia yang lewat—sepi, seolah spesies manusia mulai langka di bumi. Jadi Jimin tidak bisa bertanya perihal alamat yang ia bawa.

Sudah punya niatan untuk memilih pulang, daripada menemukan toko bukunya. Tetapi kalau dipikir lagi, sudah tanggung di jalan, arahnya juga berlawanan dengan jalan Jimin pulang.

Kalau ia tidak menemukannya hari ini, besok ia harus kesini lagi. Malas sekali.

Akhirnya Jimin memilih melangkahkan kakinya kembali, menyusuri trotoar, ditemani suasana mendung diatas kepalanya.

Sesekali melihat pada kertas alamat di tangannya, kemudian memindai sekitar mencari tanda-tanda. Begitu terus sampai Jimin menemukan gang yang cukup besar, mungkin seukuran badan mobil sedan. Ia berbelok kesana, dengan pemikiran: "Siapa tahu toko bukunya ada disini."

"Nomor seratus dua belas, pintu kayu cat sage." Mulut Jimin tidak berhenti mengulang alamat yang tertulis di kertas.

Tapi dari awal Jimin masuk, sampai langkahnya sudah lumayan ke dalam, tidak ada satu pun bangunan yang pintu kayunya bercat sage. Bahkan rata-rata bangunan, pintunya bermaterial besi, bergembok pula. Beberapa juga ada yang menggunakan rolling door.

"Haish!" Dari dulu Jimin memang payah kalau soal mencari. Jangankan mencari alamat, dulu saat ia kecil, kaos kakinya saja masih dicarikan Bunda.

Melihat kembali pada kertas alamat yang hampir lecek sebab ditekuk-tekuk tangannya. Mencocokkan dengan keadaan sekitar, "Apa salah masuk gang?"

Tapi rasanya tidak mungkin. Sebab sudah berkali-kali Jimin memeriksa alamat jalannya sampai rasanya mata mau juling. Masa iya salah.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang