Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti biasa, 'Untuk Jimin-ie.' begitu tulisannya.
Secarik kertas seukuran post it selalu tersempil diantara tumpukan makanan ringan didalam satu kantong plastik berukuran sedang. Mungkin bedanya, kali ini bertambah satu, jadi ada dua kantong diatas loker Jimin. Sampai detik ini belum ada jawaban, tentang siapa pelakunya.
Bahkan Jimin pernah sengaja menunggu di ruang loker hanya untuk memata-matai dalangnya. Sayangnya, belum membuahkan hasil sama sekali. Tidak pernah tertangkap basah, dan Jimin juga tidak punya perkiraan siapa gerangan yang melakukan.
Terlebih, sikap Taehyung yang mulai asing secara perlahan, melunturkan dugaan Jimin kalau Taehyung pelakunya. Orang itu tampak jauh dari kata peduli sekarang, bukan pada orang lain, hanya spesialis pada Jimin saja.
Taehyung mulai asing, sangat asing.
"Harus aku kemanakan makanan sebanyak ini." Dilihat-lihat lagi dua tentengan-nya. Ini terlalu banyak untuk ditampung lambungnya seorang diri. Sedang dirinya juga bingung harus bagaimana terhadap makanan-makanan yang dibawanya.
Membagikan pada teman sekelasnya bukan ide yang bagus, Jimin hanya akan mendapat dugaan-dugaan kotor, akibat citranya yang tidak baik dikalangan teman-temannya.
Intinya mereka tidak dekat untuk saling berbagi.
Lantas Jimin berniat membawanya ke ruang kesehatan, menemui Dokter Hee-Soo. Seingat Jimin, Dokter Hee-Soo tidak sepenuhnya jadi dokter sekolah. Ia secara tetap berkerja dibawah naungan salah satu rumah sakit di pusat kota, yang berarti Dokter Hee-Soo lebih mungkin punya banyak rekan kerja. Jimin pikir, dibagikan pada orang-orang yang tidak mengenalnya, akan jauh lebih dihargai nantinya.
Untungnya juga hari ini Dokter Hee-Soo ada jadwal jaga di ruang kesehatan. Jadi bisa dibilang, momennya tepat.
Mendekati ruang guru, langkah Jimin dibuat cepat sebab di jam-jam istirahat, ada banyak guru yang berkumpul di ruangan mereka. Jimin menghindari berpapasan dan tegur sapa. Sebab tidak jarang guru yang menyinggung perkara cara belajar Jimin yang lumayan bebal, dan itu sangat mengganggu.
Meski Jimin tidak memberikan respon yang kompleks, bukan berarti perasaan dan pikirannya menerima segala pergunjingan miring yang memperburuk nama baiknya yang memang tidak ada bagus-bagusnya.
Dan setidaknya Jimin berusaha melindungi perasaannya.
Namun, keadaan tidak selamanya sejalan dengan keinginan. Langkahnya dibuat berhenti, nyaris bertubrukan dengan seseorang yang baru saja keluar dari ruang guru.