Rencananya

116 18 4
                                        

888 Kata

°•°•°

Ibu jarinya tidak henti-hentinya memutar-mutar bagian manik-manik kecil dari cincin yang tersemat dijari telunjuknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ibu jarinya tidak henti-hentinya memutar-mutar bagian manik-manik kecil dari cincin yang tersemat dijari telunjuknya. Ia berusaha tetap fokus dan tenang, berusaha tidak menghindari tatapan Dokter Mi-Seon, supaya tidak curiga padanya.

Meskipun sebenarnya tidak ada sorot mengintimidasi yang ditunjukkan, sikap tenang Dokter Mi-Seon justru lebih memicu rasa was-was berlebih pada Jimin.

Banyak hal yang ia takutkan tentang apa kiranya yang akan Dokter Mi-Seon katakan. Tidak mungkin bukan jika orang dewasa yang punya pekerjaan dan sudah berkeluarga repot-repot menemui Jimin tanpa alasan yang jelas.

Tapi sejauh ini, Jimin tidak melihat Taehyung. Orang itu menghilang sejak jam pelajaran ketiga, saat ada guru yang sengaja memanggilnya. Semakin membuat Jimin gelisah saja.

"Dimakan Jim, Bibi beli ini untukmu."

Sekotak Delimanjoo yang Dokter Mi-Seon berikan sebagai buah tangan.

"Jangan cuma dilihat saja. Dicoba, ini rasa vanilla." Menunjuk pada satu baris, "Kalau yang ini cokelat." Lalu baris selanjutnya, "Ini matcha." Kemudian berhenti pada baris kue Delimanjoo terakhir, "Dan yang ini tiramisu. Tinggal pilih, Jimin maunya makan yang mana dulu."

Mata Jimin bergerak, menelaah sejenak, 'Tenang, dan ikuti saja.' Jimin akan mencoba bersikap seperti biasanya. Menekan kegelisahan supaya tidak terlalu mencuat diraut dan sorot matanya.

"Hyun-Jun tidak diajak, Bi?" Jimin mengambil satu, ia lupa susunan rasanya jadi diambil asal saja. Yang penting tidak ada stoberi, aman-aman saja.

"Sekarang dia lebih lengket dengan Ayahnya. Bibi benar-benar pusing. Bibi yang mengandung, Bibi yang melahirkan, tapi Hyun-Jun malah dekat dengan Ayahnya."

"Kalian'kan buatnya sama-sama, apa salahnya. Bukannya mengurus anak itu merepotkan. Biar saja Paman yang melakukannya." Jimin baru sadar tangan kanannya begitu berkeringat. Fabric celana seragamnya jadi sasaran dari keringat yang membasahi telapak tangannya, di lap kesana, "Paman yang mengurus Hyun-Jun dan Bibi bisa fokus bekerja. Atau mungkin sebaliknya. Supaya balance."

"Kenapa begitu?"

"Kebanyakan orang tua begitu. Lagipula memang benar, hidup tanpa uang itu sulit." Belajar dari Bunda, Jimin sudah cukup mengalami kemerosotan ekonomi yang mendesaknya untuk hidup dengan sangat apa adanya.

"Kau berpengalaman sekali sepertinya."

"Aku pernah kehilangan uang jajanku. Seharian itu aku merasa begitu miskin. Jadi tahta mana yang lebih tinggi daripada uang."

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang