Langgam Tubuhnya

98 11 4
                                        

2838 Kata

°•°•°

Bola-bola kecil dari newton's cradle—sebuah alat visual pasif yang mampu menenangkan suasana tanpa kata-kata—bergerak konstan dan ritmis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bola-bola kecil dari newton's cradle—sebuah alat visual pasif yang mampu menenangkan suasana tanpa kata-kata—bergerak konstan dan ritmis.

Dokter Mi-Seon sering membiarkan alat itu bergerak sendiri saat ia tengah berdiam diri di ruangannya yang sunyi—seperti suara samar detak waktu yang mengiringi setiap perjalanan pikirannya yang berkelana kemana-mana. Gerakan berulang dari benda itu seolah mengingatkan tentang hubungan sebab akibat—layaknya emosi dan pikiran yang mengalir dalam diri setiap manusia.

Lalu, Jimin. Ya, anak itu juga sangat gemar memaku pandang pada benda itu. Menurutnya, memandang bola-bola newton's cradle lebih nyaman daripada menatap mata Dokter Mi-Seon saat sesi mereka berlangsung.

Atau, ada hal yang lebih besar dibalik pandangan Jimin pada pajangan itu, selain hanya karena nyaman.

Mungkin, karena benda itu seperti dirinya.

Dimana satu bola terangkat, lalu menghantam yang lainnya—mengirimkan energi ke ujung seberang. Gerakan sederhana yang terlihat damai di permukaan, tapi penuh benturan di dalam.

Sama seperti Jimin, yang tidak menangis saat Ibu Taehyung memakinya—ia hanya gemetar, gemetar yang disembunyikan, dan tidak pula berteriak balik pada Ibu Taehyung yang membentaknya—ia hanya menatap dengan sorot datar.

Tetapi ketika semuanya selesai—perginya Ibu Taehyung mengakhiri konversasi yang kacau. Dan dirasa semuanya tampak mereda dan kembali tenang, justru saat itu Jimin menjelma layaknya bola Newton's cradle pertama yang menghantam dirinya sendiri.



"Jimin-ah?" Dibawah keterkejutan, Dokter Mi-Seon memanggil nama itu, setengah ragu. Namun nada bicaranya tetap dipertahankan setenang mungkin.

Pandangan Jimin tidak teralihkan dari luka-luka ditangannya. Bahunya justru turun pelan-pelan seolah beban di dadanya perlahan lepas oleh rasa sakit yang ia ciptakan sendiri.

Melihat hal itu, Dokter Mi-Seon memilih tidak berdiam diri terlalu lama di ambang pintu, meski panggilannya tidak dapat sahutan, tidak masalah. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan hati-hati, berupaya tidak mengeluarkan gerakan atau suara yang terkesan tergesa-gesa saat kembali masuk—mendekati tempat Jimin duduk.

Ia sangat tahu, hal seperti ini tidak bisa disentuh oleh nada tinggi dan tindakan serampangan. Maka dari itu, ia awali dengan meletakkan air yang dibawa ke atas meja, kemudian mendudukkan diri—menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandang dengan Jimin yang masih fokus pada kegiatannya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang