Mainannya

210 22 4
                                        

Tembus 1458 Kata.

°•°•°

Orang seperti apa dirinya, Jimin tidak pernah berani menanyakan hal itu bahkan pada dirinya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Orang seperti apa dirinya, Jimin tidak pernah berani menanyakan hal itu bahkan pada dirinya sendiri. Selalu ada konotasi negatif yang bermunculan sebagai penilaian terhadap dirinya sendiri. Sentimen yang buruk. Jimin tidak pernah mampu menemukan hal baik dalam dirinya yang bisa ditunjukkan, dibanggakan atau dipamerkan selayaknya orang lain yang punya karakter. Jimin cenderung merasa tidak menentu, terombang-ambing, rasanya seperti melayang pada sesuatu yang tidak berarah.

Tidak memiliki personalitas, seperti wadah tidak bervalue.

Bertolak belakang dengan saudara tirinya. Taehyung punya persona yang begitu bagus, hingga banyak yang memujanya layaknya seorang bintang besar. Indaman banyak orang. Dalam keluarga, lingkungan, masalah pendidikan atau bidang sosial yang lain, Taehyung selalu punya nilai plus. Caranya berinteraksi, sikapnya, perangainya, Taehyung selalu mampu menarik hati banyak orang. Hal yang tidak akan pernah bisa Jimin lakukan.

Lantas, seluruh perbandingan jatuh padanya. Ibarat jungkat-jungkit, Jimin ada dibawah dan Taehyung ada diatas.  Tapi namanya roda kehidupan pasti berputar, kadang Taehyung melakukan beberapa hal mengecewakan, memang manusia tidak pernah luput dari kesalahan.

Tapi difase itu, Jimin akan jadi sasaran. Ayah akan menyalahkannya disetiap Taehyung mengalami penurunan nilai, atau saat kesehatan Taehyung sedikit menurun. Jimin selalu dijadikan bahan Ayah untuk meluapkan kekecewaan.

Disalahkan, disudutkan, dituduh sebagai oknum yang menyebabkan Taehyung jatuh dalam kelalaian.

Meski sudah berkali-kali diperlakukan semiring itu, sialnya Jimin tidak pernah mampu terbiasa.

Kalau soal Ayah, serta prilaku dan perkataannya, Jimin selalu merasa terluka. Sakit absolute yang tidak bisa ia jabarkan, tetapi rasanya begitu gila.

'Jimin rindu Bunda.' rasa menyedihkan yang tidak akan pernah bisa Jimin lupa. Setiap dirinya terjun pada titik terendah dan rasanya sulit untuk menatap dunia. Bunda dan senyumnya selalu terlintas. Raut yang mendatangkan rasa khawatir lebih besar.

Sebab Jimin tahu, senyum Bunda hanya kepalsuan. Pikirannya jadi membayangkan betapa sulit Bundanya bertahan, tetap terlihat bahagia padahal hatinya begitu terluka. Dan Jimin sadar, sudah ditipu selama ini. Sampai akhir hayat, Bunda tetap mempertahankan senyum pura-puranya.

Lamunan Jimin buyar saat ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Kemudian, "Jimin-ah, ini aku." Suara Taehyung terdengar setelahnya.

Jimin tidak menyahut sebab pintu kamarnya tidak dikunci. Ia tidak mempersilahkan Taehyung masuk, tapi kalau orang itu memaksa, Jimin tidak berniat melarang. Ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, tenaganya tidak cukup untuk melakukan penolakan terhadap saudara tirinya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang