Renggangnya

78 11 6
                                        

1847 Kata

°•°•°

Please play the song "Sea" by BTS, through your music player, for a better reading experience.

Langkah Jimin tergesa-gesa, napasnya memburu, seolah seluruh udara yang masuk ke paru-paru tidak cukup untuk mengejar degup jantungnya yang menggila

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langkah Jimin tergesa-gesa, napasnya memburu, seolah seluruh udara yang masuk ke paru-paru tidak cukup untuk mengejar degup jantungnya yang menggila. Derap tungkainya memantul dari dinding ke dinding koridor yang sepi.

"Jimin-ah. Kau benar-benar luar biasa."  Suara Hyeon-Gi, masih terngiang jelas di telinganya. Menyusup kedalam rongga-rongga dada, mendatangkan sesak yang luar biasa. Memicu runyam pikiran yang belum reda, semakin menjadi-jadi kacaunya, "Aku tidak menyangka kalau kau akan membuat Taehyung sampai seperti ini. Padahal ya, Aku cuma memintamu membujuk Taehyung supaya turun dari peringkat juara umum."

Jimin menggigit bibirnya, menahan luapan emosi yang semakin menggedor-gedor akal sehatnya,"tapi kalau dipikir-pikir, lihat Taehyung yang sekarang, keren juga. Apalagi tadi, waktu aku lihat dia membakar sebatang rokok dibelakang lapangan in door. Sumpah, aku hampir jadi penggemarnya." 

Semua kalimat itu, sudah lebih dari cukup untuk membuat langkah Jimin makin cepat—membawanya lebih dekat ke belakang gedung lapangan in door—tempat yang di sebut Hyeon-Gi barusan, tempat yang jadi muara marahnya Jimin.

Katakanlah, Jimin tidak percaya. Meski Jimin membenci Taehyung dan tingkahnya, tetapi ia yakin sudah mengenal saudara tirinya itu lebih dari siapapun. Jadi, berita yang ia dapat dari Hyeon-Gi kalau Taehyung merokok—Jimin tidak mempercayainya.

Taehyung bukan tipe remaja nakal. Bukan. Jimin menyakini itu.

Namun, begitu sudut tembok ia lewati, matanya melihat—Taehyung yang berdiri sambil bersandar pada dinding, bersama beberapa orang. Jemarinya mengapit sisa batang rokok yang menyala lemah. Asapnya melayang pelan—seolah memperjelas pandangan Jimin yang sempat ia ragukan.

Dengan tanpa pikir panjang, Jimin mendekat. Menarik langsung sebatang rokok yang akan kembali Taehyung hisap. Gerakannya cepat dan tegas, melemparkan rokok tersebut ke tanah, lalu menginjaknya sampai padam.

"Sudah gila, ya?" Sarkas Jimin, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Lalu ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Tangannya mengepal erat disisi tubuh. Matanya bergerak—mencoba mencari kebenaran dalam netra Taehyung.

Tidak peduli dengan tatapan dari presensi lain yang ada disana. Tidak peduli jika yang ia hadapi adalah Kakak tirinya, tidak peduli dengan fakta bahwa ia sendiri yang mendatangi Taehyung dan berdiri di hadapannya. Jimin tidak peduli.

"Jimin." Nama itu meluncur dari bilah bibi Taehyung, berat—seperti tercekik oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Sementara orang-orang disekitar, yang ikut terlibat dalam melakukan tindakan tidak pantas, mulai saling melirik. Beberapa dari mereka memilih mundur perlahan, merasa suasana tidak lagi bisa diajak bercanda dan sadar ini bukan ranah yang bisa dicampuri oleh tangan mereka.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang