Ocehannya

61 8 0
                                        

2022 Kata

°•°•°

Jari telunjuk mengetuk-ngetuk pelan di atas permukaan meja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jari telunjuk mengetuk-ngetuk pelan di atas permukaan meja. Jimin bersandar di kursi, matanya terpaku pada layar komputer di depannya.

Di jam makan siang yang harusnya ia habiskan untuk menikmati bekal lezat yang Dokter Mi-Seon buat, malah ia pergunakan untuk duduk menyendiri di sudut ruang komputer perpustakaan.

Mulai mengetik di dalam kolom pencarian, mencari sesuatu yang menurutnya, mungkin adalah hal paling gila yang pernah ia telusuri lewat mesin pencarian.

Bahkan Jimin sangat jarang sekali mencoba mencari tahu tentang kondisi apa yang tengah ia derita dengan mesin pencarian. Tetapi untuk hal yang satu ini, ia rela mengulik setiap sudut informasi—meski sampai membuat kepalanya pening.

Dilayar itu tertulis, hantu adalah wujud dari sebuah urusan yang belum usai—sebab hal itu mereka tetap ada. Apalagi, semakin berat dan rumit urusan itu, maka semakin kuat pula kehadiran mereka.

"Ah, gila." Sampai berkali-kali Jimin memijat pangkal hidungnya, mencoba meredakan pusing yang menginvasi kepalanya.

Ingin sekali rasanya ia mengadu pada Dokter Mi-Seon, tetapi di satu sisi, itu terdengar seperti ide yang sangat buruk. Bisa-bisa, bukannya hantu di kamarnya yang pergi, malah dirinya yang dianggap mulai berhalusinasi, karena membicarakan hal tidak masuk akal. 

Akhirnya, mau tidak mau, ia harus mencari solusi sendiri. Maka dari itu, tangannya kembali bergerak di atas keyboard, lanjut mengetikkan—cara ampuh mengusir hantu.

Step by step, semua informasi tersaji begitu Jimin klik kolom pencarian. Mulai dari cara-cara mainstream sampai metode yang terdengar ekstrim. Satu per satu ia baca, tanpa terlewat. Mencari-cari, menimbang,  mana kiranya yang cocok dan masuk akal untuk menghadapi kejadian aneh di kamarnya.

Setiap artikel, dipahami seserius mungkin—Sangat serius, sampai-sampai ia terkejut parah saat tiba-tiba sebuah kepala muncul di hadapannya—membelakanginya.

"Cara mengusir hantu." Lalu kepala itu menoleh perlahan, menatap Jimin, "Kau baik-baik saja?"

Demi semua masalah yang sudah Jimin lalui. Tidak habis pikir, kenapa pula Dain senang sekali muncul tiba-tiba seperti hantu. Tidak tahu waktu, tidak tahu tempat. Sama mengejutkan dan menjengkelkan seperti setan.

"Minggir." Alis Jimin mengkerut, tangannya mendorong puncak kepala Dain agar orang itu berhenti menghalangi pandangannya ke layar.

"Apa hari ini ujian hariannya tentang pengusiran hantu?" Tanpa menunggu jawaban, Dain menarik kursi terdekat, lalu mengisi ruang kosong di samping Jimin. Seakan pengusiran Jimin tadi hanya angin lalu semata.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang