Peringatannya

119 16 9
                                        

607 Kata

°•°•°

Jimin mendengar, tentang kisah seribu bintang yang selalu Dokter Mi-Seon dongengkan untuk putra semata wayangnya sebelum pergi dijemput alam mimpi dibawah selimut hangatnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jimin mendengar, tentang kisah seribu bintang yang selalu Dokter Mi-Seon dongengkan untuk putra semata wayangnya sebelum pergi dijemput alam mimpi dibawah selimut hangatnya.

Dalam hikayat yang dituliskan, jika menghitung bintang sampai seribu jumlahnya tanpa keliru atau terlewat satu kelipan saja, maka doa apapun akan terkabulkan semustahil apapun yang dirapalkan.

Semustahil apapun.

Mungkin ini kedengaran takhayul, tapi Jimin sangat ingin percaya, ia ingin menerbangkan doanya untuk bisa menarik Bunda ke tempat yang nyaman di rumah Tuhan. Karena Jimin tahu, yang Bunda lakukan adalah dosa yang mungkin tidak mudah dimaafkan Tuhan.

Tetapi Jimin yakin, Tuhan itu baik. Jika ia bersungguh-sungguh memohon untuk Bundanya, mungkin Tuhan mau memberikan kemurahan hatinya memaafkan apa yang sudah Bunda lakukan.

Karena ketulusan bisa memenangkan banyak hal, yang tersulit sekalipun.

Dan untuk keyakinan yang membumbung tinggi, disinilah Jimin berdiri, dihalaman belakang rumah Dokter Mi-Seon. Memandang jauh keatas, menantang langit malam yang gelap.

Telunjuknya mengarah pada tiap-tiap lencana langit yang berkelap-kelip, menghitung tanpa terlewat, tanpa keliru dan tanpa salah ucap.

Hingga kecewa perlahan datang dan membaur dengan jengkelnya rasa, memenuhi sanubarinya.

"Yya!" Ia salah lagi, lagi dan lagi.

"Satu, dua," kembali mengulang, hitungan yang sebelumnya sudah jauh, sebab mendadak satu bintang muncul, ditengah bintang-bintang yang sudah masuk dalam hitungan.

Yang lain datang, dan yang lainnya menghilang. Kadang redup kemudian kembali terang. Begitulah keadaan bintang yang tengah Jimin hitung saat itu.

"Enam, tujuh.." tapi apa gunanya kata menyerah saat alasannya begitu tinggi tahtanya, ini tentang Bunda, maka jika Jimin diharuskan memeras darahnya, sekuat tenaga akan ia lakukan, demi bunda, "Sepuluh.."

Demi rumah rindunya.

Hilang lagi saat bintang yang lain muncul tiba-tiba ditengah hitungan yang semakin rumit rasanya. Mendongak bermenit-menit lamanya, dengan kesungguhan hati yang dibalut dalam kesabaran yang dijaga sejadi-jadinya. Kata tungkul yang mengipasi telinganya, dan mulai merangsek masuk kedalam pikirannya, Jimin sudah ditipu hawa putus asa yang akan membuatnya tergelincir dalam niatnya.

"Jimin-ah." Sampai satu tepukan dibahunya, menyentak seluruh kegiatannya. Jimin menoleh pada sumber suara, dimana Dokter Mi-Seon menatapnya penuh tanya.

Ada jejak lelah diwajahnya. Jadi wanita karir yang merangkap jadi Ibu rumah tangga memang tidak mudah, dan Jimin mulai berpikir kalau ia adalah beban yang menambah-nambahi kesulitan orang lain, "Sedang apa disini? Sudah malam, harusnya kau pergi tidur. Besok sekolah, nanti kesiangan."

Tidak lantas menimpali. Sedalam-dalamnya Jimin mengamati, sorot mata Dokter Mi-Seon. Orang yang selalu mampu membaca kelimut rumit yang bergerak runyam dalam pikiran Jimin.

Kini, ia melihat wanita itu tampak begitu letih, berusaha tetap membentuk suasana positif melalui senyum tipisnya, "Ada yang menganggu pikiranmu?" Lewat nada lembutnya, "Ingin cerita pada Bibi?" Juga sentuhan hangatnya.

'Kalau..' Jimin pikir kalau saja ia tidak disini, mungkin Dokter Mi-Seon bisa pergi istirahat setelah mendongeng didekat anaknya. Bukannya berusaha menempatkan diri didekat Jimin untuk memahaminya disela-sela waktunya, "Tidak Bi. Kalau begitu Aku masuk sekarang ya Bi, selamat malam."

'tidak terlalu penting.' akan Jimin simpan apapun yang tidak sepantasnya ia bagikan pada orang lain, sekalipun Dokter Mi-Seon yang pastinya akan mengerti dan tidak akan menghardik keluh kesahnya, tetap saja Jimin tidak ingin memberatkan.

Bagi Jimin, bisa membentang jarak dengan Ayah dan keluarga tirinya saja sudah merupakan hal yang harus ia syukuri. Jadi untuk selebihnya, Jimin akan berusaha menanganinya sendiri.

"Jimin-ah." Sayangnya, Dokter Mi-Seon bukan tipe yang mudah untuk mengabaikan, sekecil apapun yang mengganjal pemikirannya, "Kau tidak sedang menghindari Bibi'kan?"

Dengan mantap Jimin menggeleng, "Karena ini sudah malam Bi, aku harus pergi tidur, supaya tidak terlambat bangun."

Saat Jimin melewatinya, kemudian tidak lagi tergapai pandangan saat semakin masuk kedalam rumah. Tidak lantas membuat Dokter Mi-Seon melangkahkan kakinya menyusul Jimin, ia ingat Hyun-Jun pernah bilang 'Tadi siang ada Kak Taehyung, Bu.'

Anaknya juga bilang, Taehyung menghabiskan banyak waktu didalam kamar Jimin.

"Kau benar-benar tidak bisa dilarang Taehyung-ah." Sebanyak apapun Dokter Mi-Seon memperingatkan.

Double updatenya sesuai permintaan Kak AerinChae_Ji

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Double updatenya sesuai permintaan Kak AerinChae_Ji. Terimakasih ya Kak :)

Written by Minminki

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang