Rangkaian Katanya

82 10 12
                                        

1732 Kata

°•°•°

Sebentar lagi akan turun hujan, mungkin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sebentar lagi akan turun hujan, mungkin. Meski guntur terdengar lirih dari kejauhan, langit masih ragu-ragu menumpahkan airnya.

Sama saja seperti Jimin, yang masih menahan genangan air di pelupuk mata setelah mendengar ucapan tajam Ayah mengudara.


"Hebat, jadi sekarang bertemu teman lebih penting daripada uang yang Ayah bayarkan ke tempat les, demi masa depanmu. Begitu, Jimin? Pintar sekali dirimu."


Sunyi masih membentang setelah kalimat itu. Bukan sunyi yang nyaman, melainkan sejenis hening yang mengeras seperti dinding kaca tebal—menghimpit dari segala arah.

Jimin duduk terdiam di kursi penumpang, tangannya terkunci di pangkuan, jari-jemarinya saling meremas cemas. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Wajahnya datar, tenang dan tampak wajar—meski sebenarnya, di dalam kacau. Runtuh perlahan.

Agak menyesal sebab ia memberikan alasan konyol berbau-bau 'Teman' saat Ayah bertanya kenapa ia mengabaikan lesnya—meski bukan disengaja.

Sedang di balik kemudi, Ayah masih belum bicara lagi. Tidak sepatah kata pun. Hanya terdengar suara sen yang menyala, berirama pelan dan menyebalkan—seperti tengah mengukur ketegangan dalam mobil yang berdiam di tepi jalan.

Dan Jimin tahu, ini belum selesai. Masih ada kemungkinan, kekosongan ini akan diisi oleh penghakiman, penyesalan atau kemarahan berikutnya.

Dan jam digital di dashboard, menampilkan angka yang seolah enggan berubah—menit yang membeku diantara keheningan, seakan-akan ikut menahan napas. Mengikat ketegangan kuat-kuat.

Pikiran Jimin sibuk—terlalu sibuk. Menduga-duga dengan was-was, tentang kalimat yang mungkin akan Ayah lontarkan selanjutnya. Atau kalimat apa yang sebaiknya ia siapkan sebagai tameng nantinya.

Namun tidak satu pun terasa cukup. Semua alasan hanya akan dibantah. Setiap penjelasan bisa jadi celah baru yang siap dijatuhi tuduhan lagi.

"Jadi apa maumu sekarang?" Hingga akhirnya suara Ayah kembali terdengar. Datar, pelan, nyaris tidak bernada—terdengar seratus kali lebih dingin dari kutub utara.

Membekukan.

Membuat Jimin tersentak kecil. Netranya yang semula kosong, perlahan kembali hidup—bukan karena keberanian, tapi sebab rasa takut yang mencekam, menambah tingkat kewaspadaan dalam kepalanya. Tahu betul, suara itu adalah gerbang awal menuju sesuatu yang akan sulit dikendalikan—olehnya.

Tidak ada jawaban yang terdengar.

Tenggorokan Jimin mendadak kering kerontang, meski tidak ada haus yang datang. Ujung jarinya dingin, tangan yang berdiam dipangkuan mengepal tanpa sadar—lalu mengendur, dan mengepal lagi, begitu terus—siklus gugup yang sulit dihentikan.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang