Penyimak lukanya

78 8 4
                                        

2000 Kata

°•°•°

Kemungkinan besar orang menderita, karena mereka telah berusaha terlalu keras atau, menerima begitu banyak hal melebihi porsinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kemungkinan besar orang menderita, karena mereka telah berusaha terlalu keras atau, menerima begitu banyak hal melebihi porsinya. Selayaknya anak-anak yang disuguhi tulang padahal belum tumbuh gigi.

Dan kebanyakan orang menyebut mereka—tidak normal. Padahal apa yang disebut normal, adalah hasil dari penindasan, penyangkalan, pemisahan, proyeksi, introyeksi, dan tindakan-tindakan destruktif lainnya pada pengalaman.

Jadi sebetulnya, tidak ada individu yang benar-benar normal secara murni, semuanya hasil dari pembentukan baik secara sadar atau tidak.

Itulah alasan Dokter Mi-Seon belum memejamkan matanya di jam yang memasuki tengah malam. Ada banyak hal yang menganggu pikirannya, terlebih ia juga harus mengisi jurnal evaluasi Jimin.

Disaat-saat seperti ini, yang terdengar membelah sunyi ruang kerjanya hanyalah desir angin yang kadang menabrak jendela, atau bunyi dari pulpen mekanik yang ia tekan-tekan ujungnya secara konstan.

Buku jurnal berwarna biru tua dihadapannya masih kosong. Ada perasaan ragu, namun juga ada rasa yakin, dua rasa bertolak belakang justru membaur dan menghasilkan kebimbangan.

Pemikiran bermuara pada satu titik runyam. Selayaknya benang kusut yang memiliki dua ujung, Dokter Mi-Seon bingung harus menarik sisi yang mana agar tidak jadi simpul mati.

Tentang Min-Seok—Ayah Jimin, atau tentang Jimin lebih dulu.

Atau, ada benang lain yang ikut membelit—perihal Hong-Ju—Bundanya Jimin.

Mereka bertiga ada dalam lingkaran yang membara, Min-Seok yang keras kepala, Hong-Ju menyerah, lalu Jimin yang terluka.

Perputaran yang titik awalnya tidak pernah Dokter Mi-Seon ketahui. Seberapa buruk dan seberapa lama hal ini terjadi, ia tidak tahu. Bahkan ia merasa, momen konseling Hong-Ju saat hamil empat bulan merupakan pertengahan masalah, yang mungkin saja memanas perlahan hingga terbakar dan menyisakan hubungan pahit antara Jimin dan Ayahnya sekarang.

Ditambah lagi minim sekali informasi tentang apa yang sudah terjadi diantara Ayah dan Bundanya Jimin. Bahkan Kakak dari Dokter Mi-Seon—selaku dokter yang pernah menangani Bundanya Jimin, tidak memiliki cukup banyak informasi dalam rentang Bunda Jimin menikah sampai mengakhiri hidupnya.

Lalu prihal Jimin yang pernah terlibat konseling dengan Dokter Mi-Seon saat umur anak itu enam tahun, tidak banyak informasi yang bisa didapatkan menyangkut perkara yang terjadi antara kedua orangtuanya sampai ada yang memilih menyerahkan hidupnya.

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang