Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan deras, membangun irama monoton yang rapat memukul atap mobil. Suaranya seperti menutup dunia luar, dan hanya menyisakan dua orang didalam kabin—Dokter Mi-Seon di kursi kemudi, lalu Taehyung disampingnya.
Cahaya lampu lalu lintas memantul diatas genangan aspal. Wiper berkerja keras menyapu sisa hujan yang menghalangi pandangan, namun tidak mampu menghapus ketegangan sendu yang menggantung di udara—secepat apapun alat itu bergerak.
Remaja itu—Kim Taehyung, hanya duduk terdiam memandang keluar jendela, wajahnya nyaris tidak tersentuh cahaya. Tidak ada kata, tidak dengan tanya, tidak pula sekedar gumaman—hanya senyap mengental.
Sesekali Dokter Mi-Seon melirik, tidak lama, hanya sekedarnya, sebelum kembali ke jalan yang tidak terlalu ramai. Intinya, hanya suara wiper dan suara rintik air yang jatuh dari sisi mobil menjadi satu-satunya pengisi ruang diantara mereka.
Keheningan padat kian merayap, membaur pula sendu berat, hasil dari kelelahan absolut tentang hari yang jauh dari kata tenang.
Warna suasana yang terasa seperti mencekik leher mereka, atau lebih tepatnya Dokter Mi-Seon. Kekhawatiran mendorongnya untuk kembali melirik lagi, kali ini lebih lama setelah ia memastikan lampu merah masih cukup panjang.
Ada banyak pertanyaan, muncul bertumpuk dalam benak. Bahkan Dokter Mi-Seon tanpa sadar menarik sudut bibirnya, hampir hendak berkata sesuatu—namun urung, saat ia berpikir kembali, semua bentuk pertanyaannya terasa terlalu tajam jika harus dilemparkan ditengah ruang sesunyi itu.
Terlebih saat ingatan itu kembali menyeruak—membawa kembali aura suasana kacau diruang rumah sakit beberapa jam yang lalu, tepat ketika petugas keamanan datang untuk membawa Ji-Won—Ibunya Taehyung, keluar untuk mempertanggung jawabkan perbuatan.
Yang ia lihat kala itu, dari presensi remaja seperti Taehyung, bukanlah teriakan, amarah, atau amukan tidak terima, seperti perkiraan umumnya—yang panik ingin menghentikan petugas dan menjaga Ibunya tetap ada disisinya.
Tidak sama sekali, yang ada Taehyung justru tampak stagnan, pandangannya kosong—seperti hanya raganya yang berdiri disana, sedang jiwanya tersedot entah kemana. Jemarinya mengepal, kemudian melepas—seolah ada ribuan dorongan dalam dirinya.
Kebingungan yang kacau antara melawan, marah, membela, atau sekedar menarik Ibunya saja. Tampak seperti berhenti ditengah jalan—kehabisan tenaga.
Dan pada akhirnya, Dokter Mi-Seon memilih nada paling rendah, datar, tenang—jauh dari kesan menekan atau penasaran, untuk bisa bicara dengan Taehyung sekarang, "Malam ini menginap di rumah Bibi saja bagaimana?"