Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jimin memandang hasil jerih payahnya. Benda yang sudah ia susun selama berhari-hari, kini terlihat rupanya. Sedikit ada rasa bangga, ternyata ia mampu membangun brick-brick yang ukurannya kecil menjadi sebuah bentuk yang besar. Sesuatu yang tampak keren.
Tapi benda itu milik Taehyung. Jimin tidak tertarik menyimpannya meski ia yang membuatnya. Sekali lagi karena benda itu punya Taehyung. Terlebih warna-warni yang terlalu mencolok membuat Jimin enggan memajang benda itu didalam kamarnya, lumayan mengganggu pemandangan. Jadi Jimin berniat mengembalikannya pada pemilik semestinya.
Sebenarnya beberapa menit yang lalu Jimin sudah mengirim pesan singkat pada Taehyung, prihal susunan brick-nya yang harus dipindahkan. Tapi sampai didetik ini belum ada balasan. Jimin menunggu cukup lama, dan pajangan besar itu lumayan menganggu pandangannya. Ingin sekali cepat-cepat dikeluarkan dari kamarnya.
"Sial, sebenarnya kemana orang itu." Sampai kesal Jimin jadinya.
Yang tadinya berniat irit tenaga, jadi hanya memanggil Taehyung lewat ponselnya. Malah dibuat jengkel dan tetap harus berjalan keluar kamarnya. Melangkahkan kaki mendatangi Kamar Taehyung. Namun belum juga satu ketukan Jimin lancarkan. Suara lantang dari Ayah membuatnya tersentak dengan detak jantung yang berdegup cepat.
'Ada keributan dibawah.' itu yang Jimin simpulkan. Sebab suara Ayah kedengaran sangat tidak santai. Berteriak kencang dengan intonasi membentak.
Tentu saja ada rasa penasaran. Tetapi Jimin tidak berani untuk mengikuti hasrat ingin tahunya. Didalam kepalanya langsung terbayang wajah Ayah yang mengeras tegas, dengan alis yang menukik, raut yang menakutkan. Maka dari itu Jimin memilih putar balik, kembali ke kamarnya.
Di dua langkah pertama. Pergerakannya terhenti seketika. Begitu namanya disebut dalam intonasi tinggi mencerca. Berkonotasi negatif sebab terselip umpatan di ujungnya. Kontan saja tubuh Jimin menegang. Suara Ayah yang juga membawa-bawa nama Taehyung membuat Jimin kaku seketika.
Pertengkaran hebat yang tengah terjadi ternyata dilakoni oleh Ayah dan Taehyung. Lalu Jimin merasa jadi penyebab sebab namanya ikut terlibat dan disebut dengan begitu kasar oleh Ayah.
"Ayah menyesal Tae! Ayah Bersumpah demi hidup Ayah, Ayah benar-benar menyesal sudah memperkenalkan anak itu sebagai Adikmu!"
"Kalau Ayah bisa memutar waktu, lebih baik Ayah ikut program bayi tabung supaya kau punya Adik daripada harus menerima Jimin dikeluarga ini. Kau dengar!"
'Lari Jimin.' dorongan yang terus berseliweran didalam kepalanya, 'Cepat sembunyi.' tapi motoriknya tidak singkron dengan peringatan otaknya. Pikirannya terus berkata untuk menyelamatkan diri tapi seinci pun kakinya tidak bergerak. Kerongkongannya mendadak kering kerontang. Susana didalam relung hatinya menggelap dan tersandung pengap. Otaknya pun bekerja begitu hebat, memproduksi banyak asumsi negatif yang membuat jemarinya gemetar.